Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Sabtu, 21 Desember 2013

Balita Ini Kumpulkan Sampah Plastik Agar Bisa Operasi Jantung


Merasa hidup Anda susah? Lihatlah balita kecil ini, dia mengumpulkan sampah-sampah plastik demi membiayai operasi jantungnya. Kami yakin, hidup Anda jauh lebih beruntung dari nasib balita cantik ini.

Banyak orang mengeluh tentang cinta, pekerjaan, atau mengeluh belum punya iPhone terbaru. Apa yang membuat banyak orang begitu mengejar kebahagiaan dari materi duniawi? Lihatlah gadis kecil ini, dia sudah merasakan kerasnya hidup sejak kecil. Dilansir oleh situs AsiaOne.com, balita ini mengumpulkan sampah plastik demi biaya operasi jantung.

Nama balita dua tahun ini adalah Xiaoxiao, berasal dari China. Selama tiga bulan terakhir, dia mengumpulkan sampah berupa botol plastik. Sampah-sampah itu dia kumpulkan dan dijual lagi, semua dilakukan demi biaya operasi kelainan jantung yang dideritanya sejak lahir.

Tim dokter yang menangani Xiaoxiao mengatakan bahwa operasi jantung akan berhasil jika dilakukan sebelum usia Xiaoxiao tiga tahun. Biaya yang dibutuhkan sangat banyak, sekitar hampir Rp 200 juta. Bagi keluarga Xiaoxiao yang miskin di pinggir kota Beijing, angka itu melampaui pendapatan mereka.

Xiaoxiao tidak berjuang sendiri, ibunya membuka usaha menjahit sekaligus mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Selama ibunya bekerja, Xiaoxiao dititipkan pada kakek dan neneknya.

"Xiaoxiao sering menangis dan memanggil-manggil ibunya saat sedang tidur (bermimpi)," ujar sang nenek.

Berapa uang yang berhasil dikumpulkan Xiaoxiao dalam 3 bulan mengumpulkan sampah botol plastik? Baru sekitar Rp 99 ribu, masih jauh dari angka biaya operasi yang diminta tim dokter. Semoga saja ada tangan-tangan mulia yang mau membantu Xiaoxiao membiayai operasinya.

Jika sudah begini, masihkah Anda mengeluh tentang hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikeluhkan? Belajarlah dari Xiaoxiao, dan bersyukurlah pada apapun yang Anda miliki saat ini.

Jumat, 20 Desember 2013

TRUE STORY : “Bu kenapa bengong begitu…?”


Image From WayanTulus.com

Seorang wanita berusia 50-an bertanya pada Tante Tuti, bukan nama sebenarnya.
Tante Tuti terkejut. Lamunannya pecah. Dia menengok perlahan pada wanita yang barusan mengagetkannya dan dengan lirih mulai bercerita pada wanita itu, dan inilah juga yang menjadi alasan mengapa dia bergabung menjadi salah satu tenaga pemasaran asuransi.
Sekitar dua jam sebelum sang wanita bertanya , Tante Tuti dan suaminya sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta untuk menghadiri sebuah acara dengan pesawat udara. Dan mendadak suaminya kena serangan jantung di atas pesawat. Tak ayal, bukan acara inti yang menjadi tujuan setelah pesawat mendarat, melainkan sebuah Rumah Sakit swasta di daerah barat Jakarta.
Semuanya berlalu dengan sangat cepat, dan pada akhirnya Tante Tuti dibuat bengong dengan sebuah pernyataan dari pihak Rumah Sakit. Bahwa suaminya harus dioperasi saat itu juga, memasang ring jantung dengan total biaya Rp. 120 juta. Seakan tidak terima, bagaimana mungkin orang yang cukup fit seperti suaminya bisa terkena serangan jantung seperti itu.
Setelah bercakap-cakap singkat, wanita berusia 50-an itu mengajukan pertanyaan, ”Memangnya suami ibu tidak punya asuransi?”
“Tidak”, jawab Tante Tuti singkat
“Jadi , maaf ibu, darimana Ibu mau dapatkan uang sebanyak itu?”
“Entahlah, itu yang saya pikirkan barusan…”
Sang ibu melanjutkan pembicaraannya,”Bu, suami saya punya asuransi, dan ini kali ketiga suami saya masuk rumah sakit, dan saya bersyukur bisa tenang dan tidak memikirkan biayanya.”
Tante Tuti merenung, kalaupun mau, asuransi bukan solusi untuk masalah yang dia hadapi detik ini. Suaminya sedang di ruang operasi, menunggu persetujuan Tante Tuti. Menyetujuinya berarti Rp. 120 juta, tidak menyetujuinya…..TIDAK MUNGKIN!
Tante Tuti langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon semua keluarga yang terdaftar di buku telepon ponsel untuk satu tujuan : meminjam uang. Beberapa dari yang Tante Tuti telepon memberikan saran untuk melakukan negosiasi ke pihak rumah sakit, dan negosiasi itu berbuah hasil. Pada akhirnya rumah sakit hanya mengenakan tarif Rp. 80 juta untuk operasinya saja.
Setelah beberapa orang berhasil dihubungi, uang itu bisa terkumpul. Tapi ada satu hal yang sudah bulat Tante Tuti putuskan : Dia harus menjual rumahnya untuk mengganti biaya yang dia pinjam pada keluarganya, termasuk untuk biaya terapi dan kontrol yang masih harus dilakukan oleh suaminya.
Saya sudah tuliskan di atas bahwa pengalaman hidup Tante Tuti ini yang mendorongnya ingin menjadi seorang tenaga pemasaran asuransi, bukan semata-mata mencari komisi. Melainkan ada misi kemanusiaan yang ingin dia jalankan. Dan hari ini dia siap bersaksi pada semua orang tentang pentingnya asuransi untuk menghadapi dampak finansial yang terjadi akibat sebuah kejadian tak terduga

"PANDANGAN SEORANG PRIBUMI TERHADAP ORANG CINA" by Aroganswift

"PANDANGAN SEORANG PRIBUMI TERHADAP ORANG CINA"

by Aroganswift

Saya seorang pribumi yg dulunya benci setengah mampus sama WNI keturunan Cina. Tetapi setelah hidup di Amerika selama 10 tahun dan sekarang bekerja di salah satu bank terbesar di dunia berpusat di New York City, pandangan saya berubah dan mengerti mengapa Cina itu berbeda dengan orang pribumi. Dan sebenarnya banyak sekali hal-hal yg kita tidak mengerti tentang Cina, dan hal-hal ini sebenarnya harus kita ketahui dan kita pikirkan lagi, karena hal-hal ini adalah sesuatu yg bisa kita pakai untuk kepentingan bangsa sendiri dan utk memajukan bangsa sendiri. Bukan saya bilang bahwa kita harus berubah jadi Cina, cuma kalau memang bagus mengapa tidak ? Dan memang ada juga hal-hal buruknya, tetapi semua bangsa juga punya hal yg buruk.

Marilah saya mulai pendapat saya tentang perbandingan antara WNI asli dan keturunan Cina :

1. Perbedaan2 nyata Setelah bekerja tiga tahun lebih dan punya teman dekat orang bule dan orang Cina dari Shanghai di tempat kerja saya, saya melihat banyak sekali perbedaan2, diantaranya :

A. DUIT

a) Si bule, kalo gajian langsung ke bar, minum-minum sampe mabuk, beli baju baru, beli hadiah macam-macam untuk istrinya. Dan sisanya 10% di simpan di bank. Langsung makan-makan di restoran mahal, apalagi baru gajian.

b) Si Cina, kalau gajian langsung di simpan di bank, kadang-kadang di invest lagi di bank, beli Saham, atau di bunga-in. Bajunya itu2 saja sampe butut. Saya pernah tanya sama dia, duitnya yg di simpen ke bank bisa sampe 75%-80% dari gaji.

c) Saya sendiri. kalo gajian biasanya boleh deh makan-makan sedikit, apalagi baru gajian, beli baju kalo ada yg on-sale (lagi di discount), beli barang-barang kebutuhan istri, sisanya kira2 tinggal 15-20% terus di simpen di bank. *** Kebanyakan di Amerika, orang Cina yang kerja kantoran (sebenarnya Korea dan Jepang juga) muda-muda sudah bisa naik mobil bagus dan bisa mulai beli rumah mewah. walaupun orang tuanya bukan konglomerat dan bukan mafia di Chinatown. Malah mereka beli barang senangnya cash, bukan kredit. Soalnya mereka simpan duitnya benar-benar tidak bisa di kalahkan oleh bangsa lain. Kalau bule atau orang hitam musti ngutang sampe tahunan baru bisa lunas beli rumah.

KERJAAN

a) si bule, abis kerja (biasanya jam kerja jam 8 pagi - 6 sore) hari Senen sampai hari Jumat (Sabtu dan minggu tidak kerja)) ke bar ato makan-makan ngabisin gaji. Kalau di suruh lembur tiba-tiba, biasanya kesel-kesel sendiri di kantor. Biasanya kalo hari Senen, si bule tampangnya kusut, soalnya masih lama sampe hari Sabtu, pikirannya weekend melulu. Kalo hari Kamis, si bule males kerja, pikirannya hari Jumat melulu. Terus jalan-jalan gosip kiri kanan.

b) si Cina, abis kerja langsung pulang ke rumah, masak sendiri, nggak pernah makan di luar (saya sering ngajak dia makan, cuma tidak pernah mau, mahal katanya, musti simpan duit, kecuali kalo ada hari-hari khusus). Kalau di suruh lembur tidak pernah menolak, malah sering menawarkan diri untuk kerja lembur. Kalau di suruh kerja hari Sabtu atau hari Minggu juga pasti mau. Kadang-kadang dia malah kerja part-time (bukan sebagai pegawai penuh) di perusahaan lain untuk menambah uangnya.

c) saya sendiri, kalau disuruh lembur, agak malas juga kadang-kadang karena sudah punya rencana keluar pergi makan sama teman-teman kantor. Kadang-kadang ingin sekali pulang ke rumah karena di kantor melulu, cuma mau nggak mau mesti kerja (jadi kesannya terpaksa, nggak seperti si Cina yg rela). Weekend paling malas kalau musti kerja. *** Bos-bos juga biasanya suka sama orang Cina kalau soal kerjaan. Mereka soalnya pekerja yg giat dan tidak pernah bilang 'NO' sama boss. Dapat kerja juga gampang kalau mukanya Cina, karena di pandang sebagai 'Good Worker'. Atau pekerja giat. Jarang sekali, kecuali penting sekali dia tidak bersedia kerja lembur. Dan kalaupun tidak bersedia lembur, biasanya dia akan datang Sabtu atau Minggu, atau kerja lembur besoknya.

B. RUMAH

a) Apartment si bule, wah bagus sekali. gayanya kontemporari. Penuh dengan barang-barang perabotan dan furniture mahal. Pokoknya gajinya pasti abis ngurusin apartment dia.

b) Apartment si cina, wah ... kacau. Cuma ranjang satu, di lantai saja. Meja butut, dan dua kursi butut. TV nya kecil sekali, TV kabel saja tidak punya. Pokoknya sederhana sekali. Waktu saya tanya, dia bilang 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.' daerahnya pun bukan di daerah mahal, tempatnya di daerah kumuh dan kurang ada yg mau tinggal.

c) Apartment saya sendiri, yah lumayan, cuma istri saya suka juga merias rumah. Jadi apartment saya lumayan lah tidak seperti punya si Cina. Saya benar-benar salut dia bisa hidup begitu. Padahal duitnya di bank banyak. Gaji dia saja lebih tinggi dari saya karena lebih lama di perusahaan tersebut. *** Setelah 10 taon, biasanya si bule, orang item, masih tinggal di apartment atau baru ngutang beli rumah, si Cina sudah bisa beli rumah sendiri. Karena nabung dengan giatnya, dan cuma beli yg penting-penting saja. Jadi uangnya di tabungkan sendiri. ***

Disini saja saya bisa lihat perbedaan-bedaan nyata, saya pertama-tama pikir, wah si Cina ini pelit amat. Masa duit banyak kayak begitu di simpan saja di bank. Dan kalau kita banding-bandingkan dengan sejarah orang-orang Cina, kita akan tahu kenapa mereka (Cina) itu dalam long-range nya (jangka panjang nya) lebih maju dari pribumi di Indonesia, karena saya sempat bertukar pikiran dengan beberapa teman lagi orang Cina lainnya, orang India, orang Arab, orang Jerman, orang Amerika, dan orang Cina ini sendiri. Kita musti tau sejarahnya orang Cina ini.

2. Perbandingan antara sejarah kebudayaan Cina dan Indonesia JAMAN DULU Bangsa Cina adalah bangsa yg bangga dengan bangsanya, karena kebudayaan Cina adalah salah satu kebudayaan yg tertua di dunia, hampir setaraf dengan Mesopotamia dan Mesir. Karena itu kebudayaan Cina itu benar-benar menempel di sanubari nya. Susah sekali untuk melepaskan kebudayaan tersebut karena memang betul kebudayaan mereka itu hebat, terus terang, kalau kita bandingankan dengan kebudayaan kita (pribumi Indonesia) kita tidak bisa mengalahkan kebudayaan orang Cina. Dan memang kebudayaan mereka sudah diakui dunia. Menurut salah satu Journal of Archeology terkemuka di dunia, orang Melayu itu unsurnya lebih banyak mengarah ke bangsa Mongol atau Cina. Jadi bangsa Indonesia itu sebenarnya Cina, walaupun secara biologis dan evolusis, ada unsur-unsur dari India dan Arab di darah orang pribumi. Tetapi orang Indonesia (Melayu) itu sebenarnya genetik nya lebih dekat ke orang Cina. orang Cina itu sudah dari dulu 4000 tahun hidupnya diawang kesusahan terus (maksudnya rakyat kecilnya). Negara Cina dari jaman dulu, katanya, sudah perang terus, rakyat kecil di siksa olah pemerintahnya sendiri, dan pemerintahnya berganti-ganti terus. Orang Cina bisa di bilang salah satu bangsa yang tahan banting. Sudah biasa menderita, dan makin menderita, biasanya orang kan makin nekad dan makin berani, jadi semua jalan di tempuh, namanya saja mau hidup, bagaimana. Ini juga terjadi di Indonesia.

Karena negaranya sendiri, Cina, banyak masalah, mereka imigrasi kemana-mana. Mereka ada di mana-mana, teman saya orang item dari Nigeria dan Ethiopia (Afrika) bilang di sana pun ada banyak orang Cina. Dan herannya. Cina-cina di Afrika pun sukses dan bisa di bilang tidak miskin.

DI INDONESIA

Di Indonesia sendiri, waktu saya masih tinggal di Jakarta, saya bisa melihat perbedaan-perbedaannya, cuma waktu itu pikiran saya belum terbuka. Saya pernah punya teman orang Cina di Senen buka toko kain. Di sebelahnya persis ada pak Haji yg juga buka toko kain. Setelah dua tahun, bisnis si Cina makin maju, dan si pak Haji sebelah akhirnya bangkrut. Ternyata bukan karena si Cina main curang atau guna-guna si pak haji. Ternyata itu karena si Cina, walaupun sudah untung, uangnya di simpan dan di tabung saja, untuk mengembangkan bisnisnya lagi. Dan dia dan istrinya makan telor ceplok saja Sedangkan si pak haji baru untung sedikit sudah makan besar di restoran karena gengsi sama keluarga nya. Nah bukannya si pak haji ini salah ? Bukannya kita bisa lihat sendiri bahwa Cina ini pikirannya lebih maju lebih melihat ke depan dan lebih tahan banting ? Saya kira ini adalah suatu hal yang bisa kita contoh dari si Cina ini. Mungkin kita tidak usah terlalu pelit seperti dia, tapi juga tidak usah gengsi-gengsian. Saya sudah bertemu dengan banyak orang dari negara yg berbeda-beda dan satu hal yg benar-benar nyata adalah orang yg TIDAK MEMBUAT KEPUTUSAN BERDASARKAN GENGSI biasanya NEGARANYA MAJU. Coba saja lihat orang Hong Kong, orang Jepang, orang Inggris, orang Amerika, orang Jerman dan orang Singapore, mereka sudah MAJU sekali pemikirannya. Tidak seperti orang Indonesia. Kalau YA yah sudah bilang YA, kalau TIDAK yah bilang TIDAK. Jadi tidak tidak ada yg tidak enak hati. Kalau sudah lama tidak enak hati akhirnya berantem. Orang Indonesia sayangnya gengsinya tinggi sekali, tidak mau mengaku kalau memang salah atau harus merubah sesuatu yg jelek. Inilah kelemahannya.

Part II Di mata Internasional bangsa Indonesia sudah terkenal sebagai NAZI Jerman versi Asia Tenggara. Waktu perang dunia ke II bangsa Jerman sedang miskin karena mereka kalah perang dunia ke I, supaya rakyat tidak marah, si Hitler yg cerdik sengaja menyalahkan orang Yahudi yg memang kaya dan menguasai ekonomi Jerman. Dan orang Yahudi akibatnya di bantai dan tidak di perlakukan sebagai warga negara sendiri. Padahal mereka juga sudah lama tinggal di Jerman dan sudah merasa sebagai bangsa sendiri, walaupun mereka masih memegang kebudayaan mereka yg tinggi, sama seperti Cina di Indonesia. Di Indonesia anehnya, pribumi benci dengan Cina tetapi bukan dengan orang Belanda atau orang Jepang. Kalau di pikir-pikir, si Cina itu tidak salah apa-apa. Saya sebagai pribumi baru sadar akan hal itu. Belanda menyiksa bangsa Indonesia dan menguras harta bumi kekayaan Indonesia selama 350 tahun dan setelah pergi meninggalkan penyakit yg paling bahaya dan mendarah daging, yaitu korupsi, yg sampai sekarang juga menimbulkan krisis ekonomi setelah 65 tahun merdeka rupanya penyakit ini bukannya makin terobati, tetapi makan menusuk dan menular ke seluruh badan dan mental bangsa Indonesia. Bangsa Jepang, cuma menguasai 3.5 tahun, tapi menyiksa bangsa Indonesia lebih kejam dari bangsa lain. Karena kalah perang, bangsa Jepang, yah mau tidak mau sekarang musti menguasai dunia secara ekonomi tidak bisa lagi main angkat senjata. Anehnya kita sebagai pribumi malah benci dengan Cina bukannya dengan Belanda atau Jepang.

Lucu sih. Semua bangsa lain (Korea, Cina, Burma, Vietnam, dan Afrika) benci dengan bekas penjajahnya bukan penduduk sesama yg telah hidup bertahun-tahun bersama-sama (yaitu Cina kalau di Indonesia). Salah apa si Cina-cina ini, tidak salah apa-apa. Kenapa mereka kelihatannya buas dalam bisnis, tamak, dan rakus ? kenapa ? Karena mereka selama tinggal di Indonesia selalu di perlakukan sebagai orang luar dan di anak-tirikan. Coba bayangkan kalau anda-anda jadi Cina, pasti Anda-anda juga mau melindungi diri sendiri, siapa yg mau nggak makan besok ? atau mati ? Yah, kalau begitu, mereka jadi cerdik, agak licik, mengambil kesempatan dalam kesempitan, sampai akhirnya berhasil memegang ekonomi Indonesia. Tapi mereka juga bekerja keras, JAUH ..... SANGAT JAUH LEBIH KERAS DARI KITA YG PRIBUMI. Bukan cuma di Indonesia saja. orang Cina sepertinya ditaruh dimana saja pasti sukses dan bekerja keras. Mereka (Cina) tidak menyerah pada nasib, dan selalu INGIN MENJADI DUA KALI LIPATKAN TARAF HIDUPNYA, kita yg pribumi, biasanya puas dengan keberhasilan kita dan malas malasan karena merasa sudah diatas angin. Bagi Cina2 ini tidak berlaku, mau setinggi apa juga, pasti bisa lebih tinggi lagi. Kita saja yg bodoh, mau dengar omongan pemerintah yg brengsek dan mengkambing hitamkan Cina. Karena mereka sendiri juga busuk tetapi takut ketahuan. Jadi mereka menggunakan Cina sebagai tameng dan kambing hitamnya. Gimana mau hidup sebagai negara yg maju coba ? Kalau tidak bersatu. Negara yg maju harus bisa hidup dengan tentram satu sama lain tidak perduli dengan warna kulit, agama, dan keturunan. Semuanya musti diakui sebagai satu bangsa. Contohnya Amerika, mau cari orang dari mana saja ada. Cuma mereka bersatu, dan mereka sadar tiap orang punya kejelekan masing-masing. Cuma tidak digembar-gemborkan, tapi dibicarakan dan dirubah. Yg bagus nya diambil, dan dipakai bersama-sama untuk memajukan negara. Tidak segan-segan, atau gengsi, kalau gengsi-gengsi maka tidak akan maju. Harus open (terbuka) dan mau menerima kesalahan dan musti mau berubah."

Tulisan diatas ditulis oleh seorang kawan saya orang asli Indonesia yg sekarang berada di USA. Karena tidak muat dipost jadi 1 page dan tidak mau merubah originalitas tulisan ini, saya pecah jadi 2 post. temen2 .. coba deh di renungkan lagi .. apa belum cukup pertentangan yg terjadi di bangsa kita? bangsa kita sudah cukup lemah. Mestinya kita bersatu utk semakin kuat. Bukan malah perang saudara.Bukan kah terroris sudah cukup memanfaatkan kelemahan bangsa ini? Mengapa terus saling bunuh? saling cemoh? dsb. BUKA lah mata kalian lebar2.

Lihat siapa yg sebenarnya BENAR. dan siapa yg sebenarnya SALAH!?

Coba deh di pikir lagi. Simak bagus kata-kata nya saudara ku ...

►  Kami datang belakangan , awalnya banyak dari kami yang datang dalam kemiskinan, Sudah banyak yang tiba lebih dulu sejak Generasi nenek moyang nya .

►  Kami duduk di bawah terik matahari menunggu dagangan kami, di saat ada orang lain datang meminta bagian untuk uang "keamanan"

►  Kami mengayuh sepeda berjualan bakpao di saat orang lain sedang menikmati makanan kesukaan nya.

►  Kami menghitung berapa kuat kami bisa menanggung beban dan berapa yg bisa kami tabung, di saat orang lain menghitung berapa banyak uang yg akan di belanjakannya.

►  Kami berusaha dan mencari peluang yang bisa menghasilkan uang, ketika orang sedang mencari barang apa yang bisa di beli dengan uang nya.

►  Kami rajin berhubungan dengan banyak orang agar kami lancar mencari makan, ketika yg lain sedang enak menikmati hidangan makan malam di meja nya.

►  Kami berani menanggung resiko atas pinjaman2 dengan bunga tinggi, di saat banyak orang merasa berpuas diri akan penghasilan rutin nya.

►  Kami rela makan nasi sekali sehari demi masa depan, di saat semua orang menuntut makan 3 kali sehari.

►  Kami mengirit dan rela menggunakan pakaian ala kadarnya, di saat banyak orang menggunakan pakaian mewah buatan Perancang & Butik terkenal

Setelah berpuluh Tahun sang waktu berlalu ....

►  Kami menikmati apa yang telah kami perjuangkan, di saat itu ada yang mengumpat dan berkata " sialan, lu nguasain negara gueee "

►  Kami menikmati liburan untuk melihat indahnya alam ciptaan Tuhan, di saat orang-orang ribut akan kenaikan harga sembako.

►  Kami bersyukur atas hasil kerja keras kami, di saat banyak orang sedang sibuk mengutuki negeri ini dan berdemo anarkis merusak negeri ini.

►  Kami berjalan menyisir pantai, menikmati tenggelamnya matahari, ketika orang lain melihat matahari tenggelam dari jendela masih di tempat kerjanya.

►  Kami sangat bersyukur karena anak-anak kami bisa melanjutkan pendidikan, ketika orang lain banyak yang pusing memikirkan bagaimana menyekolahkan anaknya.

►  Kami menikmati dan bercerita tentang bagaimana indahnya hidup ini, ketika orang bercerita tentang susah dan pahitnya hidup ini.

►  Kami sudah berpikir besok mau makan apa, ketika banyak orang berpikir apa besok bisa makan.

►  Saat kami menikmati puncak kesuksesan, ada sebagian orang menyalahkan kami atas kemiskinan yang mereka alami.

►  Saat kami masuk ke pintu ruang pabrik kami, ada yang datang minta bagian atas apa yang telah kami perjuangkan. Kami tahu sebagian orang menganggap kami ini hanya pendatang, tapi kami tahu bagaimana membuat hidup ini menjadi lebih berarti dan di hargai, kami telah tunjukkan bagaimana kami berjuang lebih keras dalam hidup ini.

►  Kami tahu sebagian orang menganggap kami ini hanya numpang, tapi kami telah tunjukkan bahwa kami bukan penumpang gelap yang tak membayar, kami telah tunjukan bahwa kami juga adalah pejuang yang gigih dan kami adalah penurut, banyak dari kami juga ikut berjuang bahu membahu dengan para pejuang lain.

►  Kami ini adalah keturunan pengusaha ulet yang menganggap uang bukan jatuh dari langit, tapi harus di bayar dengan keringat dan kadang dengan air mata maupun darah. Tapi ada yang mengutuki kami, mengapa negeri ini penuh dengan keturunan kami yang sukses, Ada yang tidak senang dan mengiri akan kesuksesan kami. Bukan kami menjauhkan diri kami dan anak kami dari pergaulan, tapi karena kami hanya ingin agar anak2 kami lebih terjaga.

►  Kami bukannya sombong dan kami sama sekali bukanlah orang yang pembenci sesama, tapi kami hanya ingin hidup seperti apa yang nenek moyang kami ajarkan, " JANGAN PERNAH MEMINTA, TAPI BERUSAHALAH " Bukan kami tak mencintai Negeri ini, percayalah Hati kami telah tertaut dan milik Negeri ini.

►  Kami ini di takdirkan lahir di Negeri ini, mencari hidup dan ingin mati di negeri ini. Tapi ada sebagian orang yang membenci kami dan bahkan ingin menyakiti kami.

Percayalah kami ini hanya berkorban, kami hanya berbuat yang terbaik untuk anak-cucu kami.

►  Kami ini berjuang dari kemiskinan untuk mencapai kemakmuran.

►  Kami ini tidak pernah meminta semua itu dengan gratis.

►  Kami membayar apa yang harus kami bayar.

►  KAMI KETURUNAN TIONGHOA, KAMI BANGGA Meski kami kenyang tapi kadang tidur kami tak nyenyak, kami dalam ketakutan, Takut di serbu dan kembali di sakiti, Sering kami di hantui mimpi buruk, Rumah dan harta bisa hilang , Bahkan Nyawa pun bisa melayang. Kadang kami merasa berdiri di atas Bom Waktu yang bisa meledak setiap sa’at.

►  Kami telah terlahir di Indonesia, kebanggaan dan Tumpah Darah kami tentulah INDONESIA.

►  Jangan tanya Tuhan kenapa kami di lahirkan disini,

►  Jangan lagi bicara sipitnya mata kami,

►  Jangan lagi bicara kuningnya kulit kami,

►  Jangan lagi masalahkan kesukuan kami,

►  Jangan lagi ada rasa curiga

►  Jangan lagi ada rasa permusuhan

►  Jangan lagi ada rasa kebencian

Karena Tumpah Darah kami tetaplah INDONESIA,

Karena Minum kami adalah air INDONESIA,

Makan kamipun juga nasi INDONESIA, Maka Darah kami pastilah juga Darah INDONESIA.

Sekarang …..  Zaman telah berganti, penguasa juga telah datang dan pergi.

Sekarang …..  Kita lupakan masa lalu yang menyeramkan dan sangat kelabu.

Sekarang ….. Jangan lagi ada Tragedi yang menyayat banyak hati.

Sekarang ….. Sa’atnya kita lupakan dan hilangkan masalah kesukuan.

Sekarang ….. Sa’atnya kita semua bersatu padu membangun Negeri.

Sekarang ….. Sa’atnya kita angkat Negeri tercinta ini dari kemiskinan.

Sekarang ….. Sa’atnya kita galang semangat Persatuan dan Kebersamaan.

Sekarang ….. Sa’atnya kita kembangan bersama wawasan Kebangsaan kita.

PANCASILA dan BHINEKA TUNGGAL IKA Best Regards. benernya bangsa kita kalo mau maju ini cepet kok. Semua kekayaan alam yg luar negri mesti import ..  kita semua punya disini .. rakyat kita banyak sekali. jika di bandingkan dgn Australia atau Singapore ..  kita mestinya jauh lebih maju. Utk negara singapore, air mineral saja mesti import dari negara Malaysia. Dan Australia negaranya sangat kering. kekurangan air bersih. makanya tahun lalu bisa terjadi kebakaran besar di sana kalo agan2 semua menyimak berita. Tapi kenapa kedua negara ini bisa lebih kaya dari negara kita? Negara kita sangat subur. Kaya kekayaan alam. Rakyat nya sangat bnyk. dan dari sana jg banyak lahir orang2 pintar. Tapi sayang negara ini tidak menghargai itu semua dan memanfaatkan nya utk "kantong" pribadi saja. Jadi sebenarnya pihak mana yg harusnya di salahkan? Melihat rakyatnya jauh di bawah garis standart hidup. sedangkan pemerintah nya kerja nya tidak jelas apa. Yg kita tahu korupsi nya saja tidak abis2. Perbedaan ini yg terlalu jauh mencolok. Semestinya rakyat berontak utk hal ini. Kaum Cina tidak ada hub nya dgn ini. Karena kaum Cina tidak ada 1% yg duduk di bangku pemerintahan. Penduduk Indonesia lebih dari 250juta jiwa saat ini dan hampir 30% nya terpusat di DKI Jakarta. Macet tidak ada habis nya dan tidak dapat di hindari. Apabila terus seperti ini dan pemerintah tidak ambil andil serius .. maka dpt di pastikan 2015 Jakarta akan lumpuh total. Percuma beli mobil seharga 2 milyar pun kalo gak bisa gerak. Kota penuh dgn sepeda motor dan angkot yg penuh polusi. Mengapa bisa demikian? Tanyakan ke pemerintah kita. Ga ada hub nya dgn orang Cina. Coba lirik ke negara Australia .. kalo ada yg pernah kesana .. bisa tiduran di jalanan malah saking kosong nya. 1 kota Sydney itu cuma 6 juta jiwa penduduk nya. Australia secara keseluruhan cuma 25 juta jiwa, dan itu pun terbagi rata. Karena pemerintah nya bisa mengatur. Dan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat nya pun di perhatikan. Tidak ada yg hidup di bawah standart. Maka dari itu mata uang mereka terus naik dan sekarang hampir menyamai US dollar. Sedangkan Indonesia bagaimana? Di lihat dari segala aspek memang negara kita menang. Tapi apabila terus begini lama2 negara kita di beli orang secara tidak langsung gan. Bayangkan saja hasil bumi seperti batubara saja masa punya perusahaan swasta? Ya mereka keruk saja terus utk keuntungan pribadi dan jual ke luar negri. Nanti kalo sudah habis ya sudah. Terlalu bnyk kesalahan di negeri ini.

Kita seharusnya pikir flashback utk merenung. Dan coba liat secara global utk dapat maju.

Maaf apabila saya ada salah kata.

Salam. 

http://m.facebook.com/notes/erlitha-nafthalie/cina-asli-cina-indo-bule-dan-pribumi-pandangan-org-indo-pribumi-sorriebukan-maks/451425510888?fbb=r9c6e2688&refid=7

NOTE :

::  Kisah ini di tulis sudah pada thn 2010, jadi mohon di maklumi jika ada data statistik yang tidak sesuai pada saat Anda membaca.

::  Dan sejak jaman KH. Gusdur menjabat sebagai Presiden RI, nama "Cina sudah di hapus dan resmi menggunakan sebutan suku Tionghoa"Saya seorang pribumi yg dulunya benci setengah mampus sama WNI keturunan Cina. Tetapi setelah hidup di Amerika selama 10 tahun dan sekarang bekerja di salah satu bank terbesar di dunia berpusat di New York City, pandangan saya berubah dan mengerti mengapa Cina itu berbeda dengan orang pribumi. Dan sebenarnya banyak sekali hal-hal yg kita tidak mengerti tentang Cina, dan hal-hal ini sebenarnya harus kita ketahui dan kita pikirkan lagi, karena hal-hal ini adalah sesuatu yg bisa kita pakai untuk kepentingan bangsa sendiri dan utk memajukan bangsa sendiri. Bukan saya bilang bahwa kita harus berubah jadi Cina, cuma kalau memang bagus mengapa tidak ? Dan memang ada juga hal-hal buruknya, tetapi semua bangsa juga punya hal yg buruk.

Marilah saya mulai pendapat saya tentang perbandingan antara WNI asli dan keturunan Cina :

1. Perbedaan2 nyata Setelah bekerja tiga tahun lebih dan punya teman dekat orang bule dan orang Cina dari Shanghai di tempat kerja saya, saya melihat banyak sekali perbedaan2, diantaranya :

A. DUIT

a) Si bule, kalo gajian langsung ke bar, minum-minum sampe mabuk, beli baju baru, beli hadiah macam-macam untuk istrinya. Dan sisanya 10% di simpan di bank. Langsung makan-makan di restoran mahal, apalagi baru gajian.

b) Si Cina, kalau gajian langsung di simpan di bank, kadang-kadang di invest lagi di bank, beli Saham, atau di bunga-in. Bajunya itu2 saja sampe butut. Saya pernah tanya sama dia, duitnya yg di simpen ke bank bisa sampe 75%-80% dari gaji.

c) Saya sendiri. kalo gajian biasanya boleh deh makan-makan sedikit, apalagi baru gajian, beli baju kalo ada yg on-sale (lagi di discount), beli barang-barang kebutuhan istri, sisanya kira2 tinggal 15-20% terus di simpen di bank. *** Kebanyakan di Amerika, orang Cina yang kerja kantoran (sebenarnya Korea dan Jepang juga) muda-muda sudah bisa naik mobil bagus dan bisa mulai beli rumah mewah. walaupun orang tuanya bukan konglomerat dan bukan mafia di Chinatown. Malah mereka beli barang senangnya cash, bukan kredit. Soalnya mereka simpan duitnya benar-benar tidak bisa di kalahkan oleh bangsa lain. Kalau bule atau orang hitam musti ngutang sampe tahunan baru bisa lunas beli rumah.

KERJAAN

a) si bule, abis kerja (biasanya jam kerja jam 8 pagi - 6 sore) hari Senen sampai hari Jumat (Sabtu dan minggu tidak kerja)) ke bar ato makan-makan ngabisin gaji. Kalau di suruh lembur tiba-tiba, biasanya kesel-kesel sendiri di kantor. Biasanya kalo hari Senen, si bule tampangnya kusut, soalnya masih lama sampe hari Sabtu, pikirannya weekend melulu. Kalo hari Kamis, si bule males kerja, pikirannya hari Jumat melulu. Terus jalan-jalan gosip kiri kanan.

b) si Cina, abis kerja langsung pulang ke rumah, masak sendiri, nggak pernah makan di luar (saya sering ngajak dia makan, cuma tidak pernah mau, mahal katanya, musti simpan duit, kecuali kalo ada hari-hari khusus). Kalau di suruh lembur tidak pernah menolak, malah sering menawarkan diri untuk kerja lembur. Kalau di suruh kerja hari Sabtu atau hari Minggu juga pasti mau. Kadang-kadang dia malah kerja part-time (bukan sebagai pegawai penuh) di perusahaan lain untuk menambah uangnya.

c) saya sendiri, kalau disuruh lembur, agak malas juga kadang-kadang karena sudah punya rencana keluar pergi makan sama teman-teman kantor. Kadang-kadang ingin sekali pulang ke rumah karena di kantor melulu, cuma mau nggak mau mesti kerja (jadi kesannya terpaksa, nggak seperti si Cina yg rela). Weekend paling malas kalau musti kerja. *** Bos-bos juga biasanya suka sama orang Cina kalau soal kerjaan. Mereka soalnya pekerja yg giat dan tidak pernah bilang 'NO' sama boss. Dapat kerja juga gampang kalau mukanya Cina, karena di pandang sebagai 'Good Worker'. Atau pekerja giat. Jarang sekali, kecuali penting sekali dia tidak bersedia kerja lembur. Dan kalaupun tidak bersedia lembur, biasanya dia akan datang Sabtu atau Minggu, atau kerja lembur besoknya.

B. RUMAH

a) Apartment si bule, wah bagus sekali. gayanya kontemporari. Penuh dengan barang-barang perabotan dan furniture mahal. Pokoknya gajinya pasti abis ngurusin apartment dia.

b) Apartment si cina, wah ... kacau. Cuma ranjang satu, di lantai saja. Meja butut, dan dua kursi butut. TV nya kecil sekali, TV kabel saja tidak punya. Pokoknya sederhana sekali. Waktu saya tanya, dia bilang 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.' daerahnya pun bukan di daerah mahal, tempatnya di daerah kumuh dan kurang ada yg mau tinggal.

c) Apartment saya sendiri, yah lumayan, cuma istri saya suka juga merias rumah. Jadi apartment saya lumayan lah tidak seperti punya si Cina. Saya benar-benar salut dia bisa hidup begitu. Padahal duitnya di bank banyak. Gaji dia saja lebih tinggi dari saya karena lebih lama di perusahaan tersebut. *** Setelah 10 taon, biasanya si bule, orang item, masih tinggal di apartment atau baru ngutang beli rumah, si Cina sudah bisa beli rumah sendiri. Karena nabung dengan giatnya, dan cuma beli yg penting-penting saja. Jadi uangnya di tabungkan sendiri. ***

Disini saja saya bisa lihat perbedaan-bedaan nyata, saya pertama-tama pikir, wah si Cina ini pelit amat. Masa duit banyak kayak begitu di simpan saja di bank. Dan kalau kita banding-bandingkan dengan sejarah orang-orang Cina, kita akan tahu kenapa mereka (Cina) itu dalam long-range nya (jangka panjang nya) lebih maju dari pribumi di Indonesia, karena saya sempat bertukar pikiran dengan beberapa teman lagi orang Cina lainnya, orang India, orang Arab, orang Jerman, orang Amerika, dan orang Cina ini sendiri. Kita musti tau sejarahnya orang Cina ini.

2. Perbandingan antara sejarah kebudayaan Cina dan Indonesia JAMAN DULU Bangsa Cina adalah bangsa yg bangga dengan bangsanya, karena kebudayaan Cina adalah salah satu kebudayaan yg tertua di dunia, hampir setaraf dengan Mesopotamia dan Mesir. Karena itu kebudayaan Cina itu benar-benar menempel di sanubari nya. Susah sekali untuk melepaskan kebudayaan tersebut karena memang betul kebudayaan mereka itu hebat, terus terang, kalau kita bandingankan dengan kebudayaan kita (pribumi Indonesia) kita tidak bisa mengalahkan kebudayaan orang Cina. Dan memang kebudayaan mereka sudah diakui dunia. Menurut salah satu Journal of Archeology terkemuka di dunia, orang Melayu itu unsurnya lebih banyak mengarah ke bangsa Mongol atau Cina. Jadi bangsa Indonesia itu sebenarnya Cina, walaupun secara biologis dan evolusis, ada unsur-unsur dari India dan Arab di darah orang pribumi. Tetapi orang Indonesia (Melayu) itu sebenarnya genetik nya lebih dekat ke orang Cina. orang Cina itu sudah dari dulu 4000 tahun hidupnya diawang kesusahan terus (maksudnya rakyat kecilnya). Negara Cina dari jaman dulu, katanya, sudah perang terus, rakyat kecil di siksa olah pemerintahnya sendiri, dan pemerintahnya berganti-ganti terus. Orang Cina bisa di bilang salah satu bangsa yang tahan banting. Sudah biasa menderita, dan makin menderita, biasanya orang kan makin nekad dan makin berani, jadi semua jalan di tempuh, namanya saja mau hidup, bagaimana. Ini juga terjadi di Indonesia.

Karena negaranya sendiri, Cina, banyak masalah, mereka imigrasi kemana-mana. Mereka ada di mana-mana, teman saya orang item dari Nigeria dan Ethiopia (Afrika) bilang di sana pun ada banyak orang Cina. Dan herannya. Cina-cina di Afrika pun sukses dan bisa di bilang tidak miskin.

DI INDONESIA

Di Indonesia sendiri, waktu saya masih tinggal di Jakarta, saya bisa melihat perbedaan-perbedaannya, cuma waktu itu pikiran saya belum terbuka. Saya pernah punya teman orang Cina di Senen buka toko kain. Di sebelahnya persis ada pak Haji yg juga buka toko kain. Setelah dua tahun, bisnis si Cina makin maju, dan si pak Haji sebelah akhirnya bangkrut. Ternyata bukan karena si Cina main curang atau guna-guna si pak haji. Ternyata itu karena si Cina, walaupun sudah untung, uangnya di simpan dan di tabung saja, untuk mengembangkan bisnisnya lagi. Dan dia dan istrinya makan telor ceplok saja Sedangkan si pak haji baru untung sedikit sudah makan besar di restoran karena gengsi sama keluarga nya. Nah bukannya si pak haji ini salah ? Bukannya kita bisa lihat sendiri bahwa Cina ini pikirannya lebih maju lebih melihat ke depan dan lebih tahan banting ? Saya kira ini adalah suatu hal yang bisa kita contoh dari si Cina ini. Mungkin kita tidak usah terlalu pelit seperti dia, tapi juga tidak usah gengsi-gengsian. Saya sudah bertemu dengan banyak orang dari negara yg berbeda-beda dan satu hal yg benar-benar nyata adalah orang yg TIDAK MEMBUAT KEPUTUSAN BERDASARKAN GENGSI biasanya NEGARANYA MAJU. Coba saja lihat orang Hong Kong, orang Jepang, orang Inggris, orang Amerika, orang Jerman dan orang Singapore, mereka sudah MAJU sekali pemikirannya. Tidak seperti orang Indonesia. Kalau YA yah sudah bilang YA, kalau TIDAK yah bilang TIDAK. Jadi tidak tidak ada yg tidak enak hati. Kalau sudah lama tidak enak hati akhirnya berantem. Orang Indonesia sayangnya gengsinya tinggi sekali, tidak mau mengaku kalau memang salah atau harus merubah sesuatu yg jelek. Inilah kelemahannya.

Part II Di mata Internasional bangsa Indonesia sudah terkenal sebagai NAZI Jerman versi Asia Tenggara. Waktu perang dunia ke II bangsa Jerman sedang miskin karena mereka kalah perang dunia ke I, supaya rakyat tidak marah, si Hitler yg cerdik sengaja menyalahkan orang Yahudi yg memang kaya dan menguasai ekonomi Jerman. Dan orang Yahudi akibatnya di bantai dan tidak di perlakukan sebagai warga negara sendiri. Padahal mereka juga sudah lama tinggal di Jerman dan sudah merasa sebagai bangsa sendiri, walaupun mereka masih memegang kebudayaan mereka yg tinggi, sama seperti Cina di Indonesia. Di Indonesia anehnya, pribumi benci dengan Cina tetapi bukan dengan orang Belanda atau orang Jepang. Kalau di pikir-pikir, si Cina itu tidak salah apa-apa. Saya sebagai pribumi baru sadar akan hal itu. Belanda menyiksa bangsa Indonesia dan menguras harta bumi kekayaan Indonesia selama 350 tahun dan setelah pergi meninggalkan penyakit yg paling bahaya dan mendarah daging, yaitu korupsi, yg sampai sekarang juga menimbulkan krisis ekonomi setelah 65 tahun merdeka rupanya penyakit ini bukannya makin terobati, tetapi makan menusuk dan menular ke seluruh badan dan mental bangsa Indonesia. Bangsa Jepang, cuma menguasai 3.5 tahun, tapi menyiksa bangsa Indonesia lebih kejam dari bangsa lain. Karena kalah perang, bangsa Jepang, yah mau tidak mau sekarang musti menguasai dunia secara ekonomi tidak bisa lagi main angkat senjata. Anehnya kita sebagai pribumi malah benci dengan Cina bukannya dengan Belanda atau Jepang.

Lucu sih. Semua bangsa lain (Korea, Cina, Burma, Vietnam, dan Afrika) benci dengan bekas penjajahnya bukan penduduk sesama yg telah hidup bertahun-tahun bersama-sama (yaitu Cina kalau di Indonesia). Salah apa si Cina-cina ini, tidak salah apa-apa. Kenapa mereka kelihatannya buas dalam bisnis, tamak, dan rakus ? kenapa ? Karena mereka selama tinggal di Indonesia selalu di perlakukan sebagai orang luar dan di anak-tirikan. Coba bayangkan kalau anda-anda jadi Cina, pasti Anda-anda juga mau melindungi diri sendiri, siapa yg mau nggak makan besok ? atau mati ? Yah, kalau begitu, mereka jadi cerdik, agak licik, mengambil kesempatan dalam kesempitan, sampai akhirnya berhasil memegang ekonomi Indonesia. Tapi mereka juga bekerja keras, JAUH ..... SANGAT JAUH LEBIH KERAS DARI KITA YG PRIBUMI. Bukan cuma di Indonesia saja. orang Cina sepertinya ditaruh dimana saja pasti sukses dan bekerja keras. Mereka (Cina) tidak menyerah pada nasib, dan selalu INGIN MENJADI DUA KALI LIPATKAN TARAF HIDUPNYA, kita yg pribumi, biasanya puas dengan keberhasilan kita dan malas malasan karena merasa sudah diatas angin. Bagi Cina2 ini tidak berlaku, mau setinggi apa juga, pasti bisa lebih tinggi lagi. Kita saja yg bodoh, mau dengar omongan pemerintah yg brengsek dan mengkambing hitamkan Cina. Karena mereka sendiri juga busuk tetapi takut ketahuan. Jadi mereka menggunakan Cina sebagai tameng dan kambing hitamnya. Gimana mau hidup sebagai negara yg maju coba ? Kalau tidak bersatu. Negara yg maju harus bisa hidup dengan tentram satu sama lain tidak perduli dengan warna kulit, agama, dan keturunan. Semuanya musti diakui sebagai satu bangsa. Contohnya Amerika, mau cari orang dari mana saja ada. Cuma mereka bersatu, dan mereka sadar tiap orang punya kejelekan masing-masing. Cuma tidak digembar-gemborkan, tapi dibicarakan dan dirubah. Yg bagus nya diambil, dan dipakai bersama-sama untuk memajukan negara. Tidak segan-segan, atau gengsi, kalau gengsi-gengsi maka tidak akan maju. Harus open (terbuka) dan mau menerima kesalahan dan musti mau berubah."

Tulisan diatas ditulis oleh seorang kawan saya orang asli Indonesia yg sekarang berada di USA. Karena tidak muat dipost jadi 1 page dan tidak mau merubah originalitas tulisan ini, saya pecah jadi 2 post. temen2 .. coba deh di renungkan lagi .. apa belum cukup pertentangan yg terjadi di bangsa kita? bangsa kita sudah cukup lemah. Mestinya kita bersatu utk semakin kuat. Bukan malah perang saudara.Bukan kah terroris sudah cukup memanfaatkan kelemahan bangsa ini? Mengapa terus saling bunuh? saling cemoh? dsb. BUKA lah mata kalian lebar2.

Lihat siapa yg sebenarnya BENAR. dan siapa yg sebenarnya SALAH!?

Coba deh di pikir lagi. Simak bagus kata-kata nya saudara ku ...

► Kami datang belakangan , awalnya banyak dari kami yang datang dalam kemiskinan, Sudah banyak yang tiba lebih dulu sejak Generasi nenek moyang nya .

► Kami duduk di bawah terik matahari menunggu dagangan kami, di saat ada orang lain datang meminta bagian untuk uang "keamanan"

► Kami mengayuh sepeda berjualan bakpao di saat orang lain sedang menikmati makanan kesukaan nya.

► Kami menghitung berapa kuat kami bisa menanggung beban dan berapa yg bisa kami tabung, di saat orang lain menghitung berapa banyak uang yg akan di belanjakannya.

► Kami berusaha dan mencari peluang yang bisa menghasilkan uang, ketika orang sedang mencari barang apa yang bisa di beli dengan uang nya.

► Kami rajin berhubungan dengan banyak orang agar kami lancar mencari makan, ketika yg lain sedang enak menikmati hidangan makan malam di meja nya.

► Kami berani menanggung resiko atas pinjaman2 dengan bunga tinggi, di saat banyak orang merasa berpuas diri akan penghasilan rutin nya.

► Kami rela makan nasi sekali sehari demi masa depan, di saat semua orang menuntut makan 3 kali sehari.

► Kami mengirit dan rela menggunakan pakaian ala kadarnya, di saat banyak orang menggunakan pakaian mewah buatan Perancang & Butik terkenal

Setelah berpuluh Tahun sang waktu berlalu ....

► Kami menikmati apa yang telah kami perjuangkan, di saat itu ada yang mengumpat dan berkata " sialan, lu nguasain negara gueee "

► Kami menikmati liburan untuk melihat indahnya alam ciptaan Tuhan, di saat orang-orang ribut akan kenaikan harga sembako.

► Kami bersyukur atas hasil kerja keras kami, di saat banyak orang sedang sibuk mengutuki negeri ini dan berdemo anarkis merusak negeri ini.

► Kami berjalan menyisir pantai, menikmati tenggelamnya matahari, ketika orang lain melihat matahari tenggelam dari jendela masih di tempat kerjanya.

► Kami sangat bersyukur karena anak-anak kami bisa melanjutkan pendidikan, ketika orang lain banyak yang pusing memikirkan bagaimana menyekolahkan anaknya.

► Kami menikmati dan bercerita tentang bagaimana indahnya hidup ini, ketika orang bercerita tentang susah dan pahitnya hidup ini.

► Kami sudah berpikir besok mau makan apa, ketika banyak orang berpikir apa besok bisa makan.

► Saat kami menikmati puncak kesuksesan, ada sebagian orang menyalahkan kami atas kemiskinan yang mereka alami.

► Saat kami masuk ke pintu ruang pabrik kami, ada yang datang minta bagian atas apa yang telah kami perjuangkan. Kami tahu sebagian orang menganggap kami ini hanya pendatang, tapi kami tahu bagaimana membuat hidup ini menjadi lebih berarti dan di hargai, kami telah tunjukkan bagaimana kami berjuang lebih keras dalam hidup ini.

► Kami tahu sebagian orang menganggap kami ini hanya numpang, tapi kami telah tunjukkan bahwa kami bukan penumpang gelap yang tak membayar, kami telah tunjukan bahwa kami juga adalah pejuang yang gigih dan kami adalah penurut, banyak dari kami juga ikut berjuang bahu membahu dengan para pejuang lain.

► Kami ini adalah keturunan pengusaha ulet yang menganggap uang bukan jatuh dari langit, tapi harus di bayar dengan keringat dan kadang dengan air mata maupun darah. Tapi ada yang mengutuki kami, mengapa negeri ini penuh dengan keturunan kami yang sukses, Ada yang tidak senang dan mengiri akan kesuksesan kami. Bukan kami menjauhkan diri kami dan anak kami dari pergaulan, tapi karena kami hanya ingin agar anak2 kami lebih terjaga.

► Kami bukannya sombong dan kami sama sekali bukanlah orang yang pembenci sesama, tapi kami hanya ingin hidup seperti apa yang nenek moyang kami ajarkan, " JANGAN PERNAH MEMINTA, TAPI BERUSAHALAH " Bukan kami tak mencintai Negeri ini, percayalah Hati kami telah tertaut dan milik Negeri ini.

► Kami ini di takdirkan lahir di Negeri ini, mencari hidup dan ingin mati di negeri ini. Tapi ada sebagian orang yang membenci kami dan bahkan ingin menyakiti kami.

Percayalah kami ini hanya berkorban, kami hanya berbuat yang terbaik untuk anak-cucu kami.

► Kami ini berjuang dari kemiskinan untuk mencapai kemakmuran.

► Kami ini tidak pernah meminta semua itu dengan gratis.

► Kami membayar apa yang harus kami bayar.

► KAMI KETURUNAN TIONGHOA, KAMI BANGGA Meski kami kenyang tapi kadang tidur kami tak nyenyak, kami dalam ketakutan, Takut di serbu dan kembali di sakiti, Sering kami di hantui mimpi buruk, Rumah dan harta bisa hilang , Bahkan Nyawa pun bisa melayang. Kadang kami merasa berdiri di atas Bom Waktu yang bisa meledak setiap sa’at.

► Kami telah terlahir di Indonesia, kebanggaan dan Tumpah Darah kami tentulah INDONESIA.

► Jangan tanya Tuhan kenapa kami di lahirkan disini,

► Jangan lagi bicara sipitnya mata kami,

► Jangan lagi bicara kuningnya kulit kami,

► Jangan lagi masalahkan kesukuan kami,

► Jangan lagi ada rasa curiga

► Jangan lagi ada rasa permusuhan

► Jangan lagi ada rasa kebencian

Karena Tumpah Darah kami tetaplah INDONESIA,

Karena Minum kami adalah air INDONESIA,

Makan kamipun juga nasi INDONESIA, Maka Darah kami pastilah juga Darah INDONESIA.

Sekarang ….. Zaman telah berganti, penguasa juga telah datang dan pergi.

Sekarang ….. Kita lupakan masa lalu yang menyeramkan dan sangat kelabu.

Sekarang ….. Jangan lagi ada Tragedi yang menyayat banyak hati.

Sekarang ….. Sa’atnya kita lupakan dan hilangkan masalah kesukuan.

Sekarang ….. Sa’atnya kita semua bersatu padu membangun Negeri.

Sekarang ….. Sa’atnya kita angkat Negeri tercinta ini dari kemiskinan.

Sekarang ….. Sa’atnya kita galang semangat Persatuan dan Kebersamaan.

Sekarang ….. Sa’atnya kita kembangan bersama wawasan Kebangsaan kita.

PANCASILA dan BHINEKA TUNGGAL IKA Best Regards. benernya bangsa kita kalo mau maju ini cepet kok. Semua kekayaan alam yg luar negri mesti import .. kita semua punya disini .. rakyat kita banyak sekali. jika di bandingkan dgn Australia atau Singapore .. kita mestinya jauh lebih maju. Utk negara singapore, air mineral saja mesti import dari negara Malaysia. Dan Australia negaranya sangat kering. kekurangan air bersih. makanya tahun lalu bisa terjadi kebakaran besar di sana kalo agan2 semua menyimak berita. Tapi kenapa kedua negara ini bisa lebih kaya dari negara kita? Negara kita sangat subur. Kaya kekayaan alam. Rakyat nya sangat bnyk. dan dari sana jg banyak lahir orang2 pintar. Tapi sayang negara ini tidak menghargai itu semua dan memanfaatkan nya utk "kantong" pribadi saja. Jadi sebenarnya pihak mana yg harusnya di salahkan? Melihat rakyatnya jauh di bawah garis standart hidup. sedangkan pemerintah nya kerja nya tidak jelas apa. Yg kita tahu korupsi nya saja tidak abis2. Perbedaan ini yg terlalu jauh mencolok. Semestinya rakyat berontak utk hal ini. Kaum Cina tidak ada hub nya dgn ini. Karena kaum Cina tidak ada 1% yg duduk di bangku pemerintahan. Penduduk Indonesia lebih dari 250juta jiwa saat ini dan hampir 30% nya terpusat di DKI Jakarta. Macet tidak ada habis nya dan tidak dapat di hindari. Apabila terus seperti ini dan pemerintah tidak ambil andil serius .. maka dpt di pastikan 2015 Jakarta akan lumpuh total. Percuma beli mobil seharga 2 milyar pun kalo gak bisa gerak. Kota penuh dgn sepeda motor dan angkot yg penuh polusi. Mengapa bisa demikian? Tanyakan ke pemerintah kita. Ga ada hub nya dgn orang Cina. Coba lirik ke negara Australia .. kalo ada yg pernah kesana .. bisa tiduran di jalanan malah saking kosong nya. 1 kota Sydney itu cuma 6 juta jiwa penduduk nya. Australia secara keseluruhan cuma 25 juta jiwa, dan itu pun terbagi rata. Karena pemerintah nya bisa mengatur. Dan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat nya pun di perhatikan. Tidak ada yg hidup di bawah standart. Maka dari itu mata uang mereka terus naik dan sekarang hampir menyamai US dollar. Sedangkan Indonesia bagaimana? Di lihat dari segala aspek memang negara kita menang. Tapi apabila terus begini lama2 negara kita di beli orang secara tidak langsung gan. Bayangkan saja hasil bumi seperti batubara saja masa punya perusahaan swasta? Ya mereka keruk saja terus utk keuntungan pribadi dan jual ke luar negri. Nanti kalo sudah habis ya sudah. Terlalu bnyk kesalahan di negeri ini.

Kita seharusnya pikir flashback utk merenung. Dan coba liat secara global utk dapat maju.

Maaf apabila saya ada salah kata.

Salam.

NOTE :

:: Kisah ini di tulis sudah pada thn 2010, jadi mohon di maklumi jika ada data statistik yang tidak sesuai pada saat Anda membaca.

True Story : “Suami dan Tangisan Kedua Seorang Istri”



Ketika seorang suami meninggal, terkadang sang istri dibuatnya menangis DUA kali!
Jakarta, 9 Oktober 2012
“Mas, saya boleh titip plastik ini sebentar ya?”
Seorang ibu paruh baya mendatangi saya yang sedang menunggu di lobi sebuah perusahaan BUMN raksasa di kawasan Jalan Gatot Subroto Jakarta
“Boleh bu,  taruh saja di sini”, jawab saya sambil menunjuk sebuah titik di dekat kaki saya.”
Tak lama kemudian sang ibu berjalan menuju meja resepsionis. Saya ikuti langkahnya dengan ekor mata saya sampai tak lama kemudian dia kembali menuju tempat saya berdiri dengan langkah gontai dan wajah yang muram
“Kenapa bu?”
“Iya, saya tidak boleh naik ke atas oleh pak satpam”
“Emang ibu dari mana?”
“Dari berobat di poliklinik, saya bawa barang dagangan buat orang, tapi saya gak boleh naik ke atas.”
Saya memperhatikan sekilas ibu ini, siapa ibu ini? Yang saya ketahui, hanya karyawan dan keluarga karyawan yang bisa berobat di poliklinik kantor ini. Rasa penasaran membawa saya mengajukan beberapa pertanyan sampai terkuak fakta bahwa ternyata dia istri seorang karyawan yang meninggal pada usia 34 tahun, tepat 10 tahun lalu.
Ya, suaminya meninggal.
Karena serangan jantung.
Dia usianya yang masih sangat muda….
Hmm, sekedar informasi kalau Anda penasaran karena apa dia meninggal : ROKOK!
Okelah, kita tinggalkan rokok dulu sejenak. Kali lain saya akan bahas lebih dalam soal barang laknat itu.
Sang almarhum, telah bekerja 14 tahun sebelum beliau meninggal. Perusahaan tempat dia bekerja memberikan uang duka sebesar Rp. 60 juta untuk istrinya. Mendapatkan uang Rp. 60 juta , ibu ini langsung memutuskan untuk membeli sebuah rumah di bilangan Ciledug karena sebelumnya mereka hanya mengontrak di daerah ini. Dan perlu dicatat, dia masih tetap mendapat uang pensiun bulanan.
Anaknya ada tiga, ketika meninggal putra bungsunya masih berusia 2 tahun.
Sang ibu berusia 32 tahun kala itu
Karena ternyata uang pensiun dari kantor tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari, si ibu berniat untuk memulai bisnis dengan modal dari hasil menjual rumah itu. Dan tahun 2004 akhirnya rumah itu dijual kembali dengan harga Rp. 80 juta. Jadi Rp. 40 juta untuk usaha dan Rp. 40 juta untuk kembali mengontrak rumah di Ciledug.
Hmmm, suara sang ibu suah mulai melirih…
Matanya mulai berkaca-kaca, tapi terlihat ketegaran di raut mukanya.
Dia mulai menceritakan tentang bagaimana bisnis yang dia rintis berakhir tragis. Dia merasa kegagalannya adalah karena tidak ada pengalaman usaha, sebagai informasi, si ibu memilih kredit elektronik sebagai bisnisnya. Banyak ditipu, banyak pembeli yang menghilang dan tidak membayar dan akhirnya berangsur habis.
Dia mulai berpikir kala itu agar uangnya tidak habis. Dan akhirnya pindah ke Rangkasbitung dengan membeli rumah seharga Rp. 30 juta. Ini adalah tempat tinggalnya sekarang. Dan saat ini dia berjualan pempek di sebuah SMP di Rangkasbitung,
Dan akhirnya saya tidak tahan untuk bertanya pada dia :
“Bawa apa sih di tas plastik ini bu?”
Krupuk! Sang ibu menjual krupuk untuk menutup buat ongkos perjalanannya dari rumah ke poliklinik saja. Tapi karena tidak bisa naik ke atas , maka sang ibu tidak dapat uang maksimal hari itu.
DUA KALI!
Tak cukup membuatnya menangis untuk kali pertama ketika sepulang dari pemakaman, dia menyadari bahwa ada sosok yang baik, ramah, tanggung jawab, lembut yang selama ini menyayanginya dan anak-anaknya secara tulus, saat ini sudah tiada lag
Hari berganti….
Minggu terlewati….
Bulan demi bulan…
Sampai akhirnya 2 tahun, dia mulai bisa terbiasa dengan kondisi ini.
Sampai akhirnya dia menangis lagi untuk kedua kalinya, dan kali ini tangisannya lebih memilukan dibanding yang pertama. Dia menangis, bahwa ternyata suaminya  tidak meninggal sendiri. “DIA AJAK GAJINYA IKUT MENINGGAL BERSAMANYA!!”. Dan tabungan dari almarhum suaminya mulai menipis dan habis, barulah dia sadar bahwa ia perlu bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhan.
Wahai para suami!
Keputusan Anda hari ini yang akan membuat istri Anda (insya Allah) tidak perlu menangis untuk kedua kalinya.
Sehingga ketika kita nanti sudah berpindah alam dan Tuhan memberikan kita kesempatan untuk melihat kondisi keluarga kita di dunia, Anda akan tersenyum dan tak perlu mengajukan permintaan pada Tuhan : “Ya Tuhan, kalau kiranya Kau berikan aku kesempatan untuk turun sejenak ke dunia, 5 menit saja, aku akan menemui agen asuransi yang dulu pernah datang pada saya, saya akan menandatangani kontrak asuransi jiwa  yang dibawanya….”

Terinspirasi dari Kejadian Nyata : “Duarr!!”

Duarr”
Ban belakang Innova putih itu meledak, sempat oleng sebelum dengan sigap pengemudinya berhasil mengendalikan laju kuda besi itu dan berhenti di bahu jalan.
Km 110,
Tak lama lagi mobil itu akan membawa mereka semua ke Bandung untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis yang telah diagendakan sejak bulan lalu.
Lampu hazard berkedip,
Sang pengemudi keluar dengan wajah pucat, sesekali meniupkan nafas lega. Dengan langkah sigap dia berjalan menuju bagasi, dan langsung mengambil dongkrak dan menurunkannya. Dia terdiam…
Tak lama dia terdiam, buru-buru dia langsung masuk ke dalam mobil dan mengatakan sesuatu pada salah satu penumpang yang duduk di jok belakang. Dan setelah itu sang penumpang mulai mengumpati sang pengemudi dari dalam mobil itu dan mengatakan bahwa acara besar mereka bakal berantakan!!
Tahukah apa yang menyebabkan sang pengemudi menerima kemurkaan itu?
Ya,
Dia tidak membawa KUNCI RODA!
Ok,
Dia bisa saja menyetop salah satu mobil untuk meminjam kunci roda, tapi boo….ini jalan tol!! Siapa yang mau menghentikan kendaraannya dari kecepatan tinggi untuk meminjamkan kunci roda.
Akhirnya, mereka harus menunggu mobil patroli untuk mendapatkan kunci roda dan mengganti roda itu untuk kembali bergerak menuju Bandung…
Berapalah harga barang mungil ini, bentuknya terkadang hanya seperti huruf L, ringan dan saya yakin harganya tak seberapa. Tapi barang kecil ini bisa menggagalkan sebuah kesepakatan bisnis milyaran!
Banyak hal di dunia ini yang manfaatnya terasa sangat kemudian. Terkadang barang itu sangat sederhana, murah, dan tidak ada manfaatnya sekali ketika sesuatu belum terjadi.
Seperti KUNCI RODA…

Kantor Saya Baik, Saya yang Kurang Pintar :)


Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan subkontraktor telekomunikasi dengan gaji Rp. 1,750,000,- perbulan. Buat seseorang yang baru pertama kali bekerja, ya itu angka yang sesuatu banget kali ya. Dan waktu itu saya juga tidak ambil pusing dengan jumlah itu, yang penting saya bekerja dan gajian. Tapi belakangan, saya coba melihat-lihat lagi surat kontrak kerja saya dengan perusahaan itu, dan ternyata gaji saya itu ada perinciannya lagi :

1. Gaji Pokok : Rp. 1,000,000,-
2. Tunjangan Transport : Rp. 500,000,-
3. Tunjangan Kesehatan : Rp. 250,000,-
Kalaupun saya sudah membaca perincian ini waktu dulu, saya pun juga tidak perdulikan perincian itu.  Mungkin ada beberapa dari kita yang bekerja di tempat yang memberikan gaji dengan komposisi seperti yang saya alami di atas, bukan hal yang aneh. Yang aneh dan lucu adalah : Saya menganggap komponen nomor 3 (tunjangan kesehatan) sebagai gaji. Layakya gaji, saya bisa saja habiskan untuk beli barang konsumsi, atau sekedar saya taruh di bank, dan mungkin bisa saja saya pakai untuk hang-out bersama teman-teman di mall atau bioskop.
Lho kok lucu?
Ya…itu karena saya tidak mau disebut bodoh. Hehehe… Betapa tidak? Orang pintar mana yang menganggap tunjangan kesehatannya sebagai gaji dan justru menggunakannya untuk konsumsi. Baru saya sadari bahwa perusahaan saya itu sangat luar biasa, mereka ingin membuat saya ‘berpikir’. Ya, berpikir untuk menemukan cara bagaimana membuat tunjangan kesehatan senilai Rp. 250,000 perbulan itu menjadi berarti. Sekarang coba pikirkan, kalau saya sakit, Rp. 250,000 itu cukup untuk konsultasi dokter dan mendapatkan obat, jadi saya masih boleh sakit sebulan sekali.
Itu kalau rawat jalan, bagaimana kalau rawat inap?
Niscaya Rp. 250,000 hanya cukup untuk mendapatkan sebuah kamar rawat kelas 3 yang berisi 2 – 4 tempat tidur pasien. Jadi, darimana saya harus bayarkan biaya kunjungan dokter dan biaya obat, infus dan semua alat pendukungnya? Jadi apa yang harus saya lakukan dengan uang yang sedikit itu? Hmm…itu belum bisa saya temukan jawabannya dulu, tapi saat ini saya boleh berikan jawabannya untuk Anda yang punya masalah serupa dengan saya waktu itu : “Belilah asuransi kesehatan syariah!”
Lihatlah apa yang bisa saya dapatkan dengan Rp. 250,000 itu ketika saya berusia 25 tahun dulu
1. Biaya Kamar Rawat 500 ribu sehari ;
2. Operasi sampai Rp. 150 juta setahun ;
3. Obat-obatan hampir Rp. 10 juta , dan ;
4. Rawat jalan Rp. 4.5 juta.
Saya bergumam , “Tapi kalau saya sehat-sehat saja , saya kehilangan Rp. 250,000 perbulan itu dong? Rugi dong saya…”
Hmm, tapi setelah saya berpikir sedikit lebih dalam : kalau saya sehat-sehat saja artinya ‘kerugian’ maksimal saya adalah Rp. 3 juta bukan? Jadi saya tinggal berusaha sedikit lebih untuk mendapatkan penghasilan tambahan Rp. 3 juta setahun, bisa dengan lembur atau jualan baju. Lagipula karena asuransinya syariah, kalau saya sehat-sehat saya, artinya premi saya justru untuk bersedekah ke nasabah lain yang sakit. Jadi kalau mau bawa-bawa sakit hati, saya tidak sakit-sakit amat karena saya tahu, bahwa ada orang yang memanfaatkan premi yang saya bayarkan.
Nah, Kalau saya tetap simpan Rp. 250,000 di rekening bank untuk jajan, maka saya justru menghadapi kemungkinan biaya tak terhingga kalau saya ditakdirkan Tuhan untuk sakit, mungkin Rp. 250,000 x 12 bulan = Rp. 3 juta tidak cukup untuk sekali rawat inap.
Kalau gitu, saya akan sumbangkan saja, Sedekah itu obat segala penyakit dan penolak bencana
Saya meyakini mutlak pernyataan tersebut, karena janji Tuhan ada di dalamnya. Tapi saya juga meyakini ada hal-hal yang menjadi ranah ikhtiar kita. Saya memikirkan kejadian-kejadian sederhana seperti ini untuk menjadi bahan diskusi para pembaca sekalian :
Karena sudah bersedekah, apakah kita bisa dengan tenang membiarkan pintu pagar kita terbuka ketika kita tidur?
Karena sudah bersedekah, apakah artinya kita boleh menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri untuk memastikan jalan yang akan kita seberangi kosong?
Karena sudah bersedekah, apakah kita bebas untuk makan apa saja karena mengharap sedekah kita akan menolak sakit?Jadi, di antara sedekah dan ikhtiar itu perlu menggunakan kata ‘dan’ , bukan ‘atau’.
Kita bersedekah sebelum perjalanan jauh mengharapkan perlindungan-Nya, dan kita juga berikhtiar melindungi diri kita dengan menggunakan sabuk pengaman. Kalau ternyata sudah memproteksi diri sedemikian rupa dan tetap saja tertimpa musibah, maka kita pasrahkan semua pada Tuhan.
Dan kembali ke kantor….
Ternyata perusahaan saya ingin saya berpikir : “Apa yang bisa saya lakukan dengan Rp. 250rb untuk mendapatkan santunan kesehatan diri kita sendiri.
Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Balada Para Pelindung Kehidupan

“Saya rugi punya asuransi, selama ini saya tidak pernah klaim dan sehat-sehat saja. Jadi saya niat mau tutup saja, mending uangnya saya masukkan tabungan saja”

rugi
Seorang sahabat saya bertutur via Blackberry Messenger mengeluhkan premi yang terus-terusan dibayarnya di asuransi yang dia beli sekitar 2 tahun yang lalu. Dari larik-larik bahasanya dia kecewa karena tidak ada manfaat yang dia rasakan selama dia membayarkan premi tersebut. Nyesek, gitu katanya. Asuransi ini memang bentuk hubungan yang unik, untuk memahaminyapun butuh cara pandang yang tidak biasa. Hmmm, bagaimana ya… OK, bagaimana kalau seperti ini :
Toni ingin mengembalikan gembok besi yang telah 3 tahun dibelinya dengan mengatakan,
“Saya dulu berniat membeli gembok ini untuk keamanan, tapi ternyata rumah saya aman-aman saya”
Penduduk komplek bermaksud memecat satpam yang telah mereka pekerjakan selama 9 bulan,
“Dulu kami pekerjakan dia karena baru ada motor salah satu penduduk yang hilang, tapi setelah itu sudah tidak ada lagi kehilangan, jadi kami sudah tidak memerlukan dia lagi”
Rosi juga berniat mendatangi supermarket tempat dia membeli payung,
“Mbak, ini kan dulu saya beli buat jaga-jaga kalau hujan. Nyatanya gak hujan-hujan saja, saya mau kembalikan saja payung ini”
Beni memutuskan untuk tak mau lagi menggunakan jembatan penyeberangan,
“Saya akan baik-baik saja”, ujarnya
Dan kira-kira apa yang akan menjadi pendapat kita semua jika ada orang-orang yang mengembalikan barang-barang di bawah ini ke penjualnya dengan alasan yang sama :
Ban serep , karena ban utamanya tak pernah bocor ;
Tabung pemadam kebakaran, karena rumahnya tak pernah kebakaran ;
Sabuk pengaman, karena tak pernah terjadi kecelakaan dan ;
Helm , karena tidak pernah jatuh.
Saya simpulkan bahwa beberapa usaha-usaha yang bersifat pencegahan memang mengandung ketidaknyamanan dalam pelaksanaannya.
Usaha mengunci pintu setiap malam, membosankan…
Membayar tenaga keamanan, pengeluaran…
Membawa payung kemana-mana, berat…
Menaiki jembatan penyeberangan , melelahkan…
Memasang sabuk pengaman , tidak nyaman…
Memakai helm , pengap dan panas…
Demikian pula asuransi ,
Manfaat pencegahan tragedi keuangan keluarga yang diberikannya juga memberikan imbas ketidaknyamanan berupa kebesaran hati kita untuk membayarkan iuran takaful atau tabarru alias tolong menolong antarpeserta asuransi.
Tentunya akan ada kemungkinan besar bahwa kita akan sehat-sehat saja setelah bertahun-tahun membayarkan iuran tersebut. Artinya di sisi nusantara yang lain, saudara kitalah yang ditakdirkan untuk sakit dan membutuhkan biaya, sehingga iuran dari kitalah yang bermanfaat untuk mereka. Tentunya kita semua berharap tidak ingin mendapatkan manfaat klaim tersebut alias sehat-sehat saja kan? Tapi apakah kita bisa memastikan bahwa kita akan sehat terus?
Apakah kita bisa memastikan rumah kita aman ketika tidak digembok?
Apakah kita bisa memastikan komplek kita aman ketika tidak ada satpam?
Apakah kita bisa memastikan tidak akan turun hujan ketika payung kita tinggalkan di rumah?
Apakah kita bisa memastikan ban kita tidak bocor ketika ban serep kita kembalikan ke showroom?
Akhirnya seperti Gembok, satpam, payung dan ban serep , asuransi adalah salah satu dari usaha-usaha tambahan kita untuk memberikan kepastian lebih tinggi akan hasil-hasil yang kita inginkan

Minggu, 08 Desember 2013

Biasa Menjadi Luar Biasa

Dalam bekerja, setiap orang seringkali melakukan tugas atau pekerjaan yang sama. Semakin sering melakukan suatu pekerjaan yang sama, semakin lancar kita mengerjakannya.

Berbeda dengan ketika kita pertama kali melakukannya. Entah itu pekerjaan mengetik, membuat proposal, membuat laporan, membuat analisa bisnis, memimpin rapat hingga pekerjaan menyetir, membersihkan ruangan, ataupun membuat kopi. Pertama kali melakukannya, mungkin kita merasa sulit, bingung, rumit, belum tahu harus bagaimana, atau agak lamban karena belum biasa. Tapi lama kelamaan, kita semakin cepat bekerja, pekerjaan juga terasa semakin ringan.

Akan tetapi setelah pekerjaan menjadi biasa, seringkali timbul perasaan “meremehkan”, timbul perasaan “malas” dan “bosan”. Inilah yang menjadi masalah karena kita tidak akan bisa mencapai hasil yang lebih. Segala sesuatu hanya menjadi hal yang biasa.

Membuat Hal Biasa Menjadi Luar Biasa

Ada seorang karyawan bernama Susi harus menyiapkan seluruh acara untuk kunjungan direksi dari kantor pusat luar negeri selama beberapa hari di Indonesia. Seperti biasa, dia memesan hotel, mengatur jadwal harian, mengatur meeting, mengatur jadwal pemakaian ruangan, membuat undangan meeting, menyiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan, memesan makanan, mengatur waktu santai dan waktu istirahat, mengatur siapa saja yang harus menemani para direksi, dan puluhan persiapan lainnya, termasuk besarnya biaya yang harus dialokasikan untuk setiap aktivitas.

Seperti biasa, Susi sangat sibuk. Tiap hari pulang malam, bahkan suatu hari ia bekerja hingga pukul sepuluh malam. Maklum, dia hanya bekerja sendirian. Suatu pagi atasannya memanggilnya dan bertanya, "Susi, kenapa kamu kerja sampai larut malam begitu? Kan kamu sudah biasa menangani acara seperti ini? Bekerja seperti biasa saja !"

"Memang saya sudah biasa menangani acara seperti ini. Acara yang lebih besar juga sering. Tapi saya tidak mau menganggap acara ini sesuatu yang biasa pak. Saya ingin menjadikan acara yang biasa dilakukan setiap enam bulan ini menjadi luar biasa bagi semua orang. Jadi saya harus bekerja lebih baik daripada sebelumnya," jawab Susi dengan tenang. Dia menyukai pekerjaannya. Dia mengerjakannya dengan senang.

"Wah. Bagus sekali pendapat kamu," kata atasannya agak heran. Dalam hatinya dia berkata, "Mengapa tidak semua orang berpandangan seperti ini—mengubah semua pekerjaan yang biasa-biasa saja bisa diubah menjadi luar biasa? Wow! Pantas saja, setiap acara yang ditanganinya pasti hasilnya luar biasa. Seandainya semua karyawan memiliki pandangan seperti ini, pasti hasilnya luar biasa!"

Bekerja dengan Senang

Kunci menjadikan segala sesuatu luar biasa adalah menyukai pekerjaan. Lakukan segala sesuatu dengan senang. Lakukan dengan segenap hati. Jika Anda melakukan pekerjaan dengan senang dan dengan segenap hati, maka tidak ada yang terasa berat.

Salah seorang staf kami, sebut saja namanya Ati, baru bekerja sekitar dua minggu. Suatu hari, saya ke kantor pagi-pagi dan meninggalkan beberapa lembar kerja yang perlu difotokopi dan diantar ke hotel tempat kami mengadakan training. Saya pun meninggalkan catatan kecil di meja.

Tak berapa lama, saya menerima SMS. Ternyata dari Ati. Waktu saya baca SMS-nya, ternyata dia salah kirim. Seharusnya SMS itu dikirim ke pacarnya, namun salah kirim ke saya. Bunyinya begini, “Mas, udah sampai mana? Aku baru sampai kantor nih. Tapi sebel deh, pagi2 udah dapat kerjaan. Disuruh fotokopi. Udah gitu, disuruh anter ke hotel lagi. SEBEELLL DEH!“

Saya sampai tertegun setelah membaca SMS tersebut. Terkejut. Serasa tidak percaya. Kira-kira semenit kemudian ada SMS lain darinya. Waktu saya buka, ternyata hanya berbunyi, “Maaf bu. Salah kirim“.

Saya semakin tertegun. Akhirnya saya telepon dia. Saya berkata, “Saya ingin berbicara masalah isi SMS dari Ati tadi.“

"Oh iya. Maaf bu. Tadi di angkutan kota ada copet sih, jadi saya sebel.“ Hah? Kok jadi masalah copet? Gubrak...!

Saya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa dia tidak menyukai pekerjaannya. Baru fotokopi dan antar ke hotel yang dekat saja sudah merasa berat, sudah menjadi beban baginya, sudah sebal. Bagaimana jika harus keluar kota? Ke hutan? Ke perkebunan kelapa sawit? Bertugas hingga jauh malam? Semua tugas dan pekerjaan akan menjadi beban dan terasa sangat berat.

Cara Mencintai Pekerjaan

1. Hargai pekerjaan yang Anda miliki. Tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan itu dan bisa menikmatinya.
2. Cari sisi positif dalam mengerjakan apapun. Minimal, kita bisa memberi manfaat bagi keluarga, teman, dan orang lain.
3. Cari dan temukan hal-hal yang menyenangkan dalam mengerjakan segala sesuatu. Misal menambah pengalaman, menambah teman, mencoba tempat makan baru, memesan makanan kesukaan dekat kantor, bertemu dengan sahabat, bisa belajar sesuatu yang baru, mengejar prestasi, membeli hadiah kecil bagi diri sendiri jika pekerjaan sudah selesai, mencari ide kreatif, dan sebagainya.

Jika Anda tidak menyukai pekerjaan Anda dan merasa terjebak karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang Anda sukai, maka ingatlah satu hal. “Jika Anda tidak bisa mendapatkan yang Anda suka, maka sukailah yang sudah anda dapatkan.“ Bersyukurlah Anda bisa bekerja. Banyak orang yang ingin bekerja tapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Salah satu perusahaan yang saya tahu, baru saja menerima 32 karyawan baru dari 6000 pelamar.

Bersyukurlah untuk segala sesuatu yang sudah Anda dapatkan.. Just be thankful! Love your job!

Selasa, 03 Desember 2013

10 kata bijak dari para tokoh dunia tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi kegagalan

kata bijak, kata mutiara, motivator, motivasi


Dalam kehidupan ini, kita semua mungkin pernah mengalami kegagalan. Namun apa maknanya? Perbedaan utama antara orang yang benar-benar sukses dan gagal adalah sikap mereka menghadapi kegagalannya. Bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi kegagalan?


Berikut adalah 10 kata bijak dari para tokoh dunia tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi kegagalan:




1. “Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan.” (John F. Kennedy)


2. “Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi.” (Orison Swett Marden)


3. “Kebanggan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali ketika kita jatuh." (Confusius)


4. “Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.” (Thomas Alva Edison)


5. “Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni, orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir.” (W.A. Nance)


6. “Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.” (Winston Chuchill)


7. “Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras, dan mau belajar dari kegagalan.” (General Colin Powell)


8. “Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua, yaitu mereka yang berpikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak pernah memikirkannya.” (John Charles Salak)


9. “Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa dan tidak menjadi apa-apa.” (Denis Waitley)


10. “Kegagalan adalah satu-satunya kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdik.” (Henry Ford)


Tidak ada orang yang gagal namun yang ada hanyalah orang yang berpikir dirinya gagal. Gagal bukanlah satu kesalahan, kegagalan hanyalah sebuah proses menuju kesuksesan yang lebih besar.

Sebotol racun untuk semangat hidup



cerita, renungan
Seorang pria mendatangi seorang Sufi yang diseganinya, “Sufi, saya bosan hidup. Rumah tangga berantakan. Usaha kacau. Saya ingin mati saja.”

Sang Sufi tersenyum, “Oh, kamu pasti sedang sakit, dan penyakitmu pasti bisa sembuh.”


“Tidak Sufi, tidak. Saya sudah tidak ingin hidup lagi, saya ingin mengakhiri hidup saya ini saja,” tolak pria itu.


“Baiklah kalau memang itu keinginanmu. Ambil racun ini. Minumlah setengah botol malam ini, sisanya besok sore jam 6. Jam 8 malamnya engkau akan mati dengan tenang.”


Pria itu bingung. Pikirnya setiap Sufi yang ia pernah datangi selalu memberikannya semangat hidup. Tapi yg ini sebaliknya dan justru menawarkan racun.


Sesampainya di rumah, ia minum setengah botol racun yang diberikan Sufi tadi. Ia memutuskan makan malam dengan keluarga di restoran mahal dan memesan makanan favoritnya yang sudah lama tidak pernah ia lakukan. Untuk meninggalkan kenangan manis, ia pun bersenda gurau dengan riang bersama keluarga yang diajaknya. Sebelum tidur pun, ia mencium istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu.”


Besok paginya dia bangun tidur, membuka jendela kamar dan melihat pemandangan di luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk jalan pagi.


Pulang ke rumah, istrinya masih tidur. Ia pun membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, dan satunya untuk istrinya.


Istrinya yang merasa aneh, kemudian terheran-heran dan bertanya, “Sayang, apa yg terjadi? Selama ini, mungkin aku ada salah ya. Maafkan aku ya sayang?”


Kemudian dirinya mengunjungi ke kantornya, ia menyapa setiap orang. Stafnya pun sampai bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya?” Ia menjadi lebih toleran, apresiatif terhadap pendapat yang berbeda. Ia seperti mulai menikmatinya.


Pulang sampai rumah jam 5 sore, ternyata istrinya telah menungguinya. Sang istri menciumnya, “Sayang, sekali lagi mohon maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkanmu.” Demikian halnya dengan anak-anaknya yang berani bermanjaan kembali padanya.


Tiba-tiba, ia merasa hidup begitu indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan racun yang terlanjur sudah ia minum?


Bergegas ia mendatangi sang Sufi, dan bertanya cemas mengenai racun yang telah sebelumnya ia minum kemarin. Sang Sufi dengan enteng mengatakan, “Buang saja botol itu. Isinya hanyalah air biasa kok. Dan saya bersyukur bahwa ternyata kau sudah sembuh.”


“Bila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini. Maka leburkan “belenggu egomu”. Satu kata untukmu, “Bersyukurlah”. Karena itulah rahasia kehidupan sesungguhnya. Itulah kunci kebahagiaan, dan jalan menuju ketenangan”.

Tersenyumlah dengan Hatimu, dan kau akan mengetahui betapa dahsyat dampak yang ditimbulkan oleh senyummu

smilling


Kisah ini di kirim oleh Mahasiswa asal Indonesia yang bemukim di Jerman, demikian layak untuk dibaca dan direnungkan.


Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.


Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada disekitar kampus.


Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya, berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil!


Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. Ketika saya menunduk, tanpa

sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu. Ia menyapa "Good day" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk

membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya.


Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba-tiba saja sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di

counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."


Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.


Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.


Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.


Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas

punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."


Kembali mata biru itu menatap dalam kearah saya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."


Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya

yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."


Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak- isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.


Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata

"Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-anakku! "


Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.


Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."


Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran, saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya kearah kami.


Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!


Saya kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada

yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.


Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.


Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper.

"Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."


Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."





***********





Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara mencintai sesama dengan memanfaatkan sedikit harta-benda yang kita miliki, dan bukannya mencintai harta-benda yang bukan milik kita, dengan memanfaatkan sesama.


Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang-orang terdekat anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya.

Kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah orang biasa menjadi orang luar biasa

cerita, motivasi



Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”


Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.


Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.


Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.


Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi “orang luar biasa”.


Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa’ yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara’.

Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja’.


Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan katakan dalam hatimu “Air mata ku diperhitungkan Tuhan dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara!

Senin, 02 Desember 2013

Kisah Pemuda Miskin Yang Ditolak Cintanya


Photo: "Kisah Pemuda Miskin Yang Ditolak Cintanya"

Seorang Pemuda miskin mencintai seorang gadis kaya. Suatu hari Pemuda itu menyatakan cintanya kepada si gadis.

Namun Gadis itu berkata, "Dengar ya, gaji bulanan Anda sama dengan pengeluaran harianku..! Haruskah aku pacaran dengan Anda? Aku tidak akan pernah mencintai Anda. Jadi, lupakan diriku dan pacaran dengan orang lain yang setingkat dengan Anda".

Tapi entah kenapa si Pemuda tidak bisa melupakannya begitu saja.

10 tahun kemudian, mereka bertemu disebuah pusat perbelanjaan.

Wanita itu berkata, "Hei Kamu! Apa kabar? Sekarang aku sudah menikah. Apakah kamu tahu berapa gaji suamiku? Rp 20 juta perbulan! Dapatkah kamu bayangkan? Dia juga sangat cerdas." Mata Pemuda itu berlinang air mata mendengar kata-kata wanita itu.

Beberapa menit kemudian sang suami wanita itu datang.

Sebelum wanita itu bisa mengatakan sesuatu, suaminya berkata: "Pak...?! Saya terkejut melihat Anda disini. Kenalkan istri saya."

Lalu dia berkata kepada istrinya, "Kenalkan Bossku, Boss masih lajang loh. Dia mencintai seorang gadis tapi gadis itu menolaknya. Itu sebabnya dia masih belum menikah. Sial sekali gadis itu. Bukankah sekarang tidak ada lagi orang yang mencintai seperti itu ?"

Wanita itu merasa terkejut dan malu sehingga tidak berani melihat kedalam mata si Pemuda.

Pesan Moral:

Kadang orang yang kita sakiti dan kita hina jauh akan lebih sukses dari pada yang kita bayangkan. Setelah semua terjadi timbullah sebuah penyesalan dari dirinya. Kadang orang yang dihina akan memakai hinaannya untuk mengapai sebuah kesuksesan.

Ini hanya sebagian cerita kehidupan nyata. Bukan harta yang akan membuat kita bahagia tetapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.
Seorang Pemuda miskin mencintai seorang gadis kaya. Suatu hari Pemuda itu menyatakan cintanya kepada si gadis.

Namun Gadis itu berkata, "Dengar ya, gaji bulanan Anda sama dengan pengeluaran harianku..! Haruskah aku pacaran dengan Anda? Aku tidak akan pernah mencintai Anda. Jadi, lupakan diriku dan pacaran dengan orang lain yang setingkat dengan Anda".

Tapi entah kenapa si Pemuda tidak bisa melupakannya begitu saja.

10 tahun kemudian, mereka bertemu disebuah pusat perbelanjaan.

Wanita itu berkata, "Hei Kamu! Apa kabar? Sekarang aku sudah menikah. Apakah kamu tahu berapa gaji suamiku? Rp 20 juta perbulan! Dapatkah kamu bayangkan? Dia juga sangat cerdas." Mata Pemuda itu berlinang air mata mendengar kata-kata wanita itu.

Beberapa menit kemudian sang suami wanita itu datang.

Sebelum wanita itu bisa mengatakan sesuatu, suaminya berkata: "Pak...?! Saya terkejut melihat Anda disini. Kenalkan istri saya."

Lalu dia berkata kepada istrinya, "Kenalkan Bossku, Boss masih lajang loh. Dia mencintai seorang gadis tapi gadis itu menolaknya. Itu sebabnya dia masih belum menikah. Sial sekali gadis itu. Bukankah sekarang tidak ada lagi orang yang mencintai seperti itu ?"

Wanita itu merasa terkejut dan malu sehingga tidak berani melihat kedalam mata si Pemuda.

Kadang orang yang kita sakiti dan kita hina jauh akan lebih sukses dari pada yang kita bayangkan. Setelah semua terjadi timbullah sebuah penyesalan dari dirinya. Kadang orang yang dihina akan memakai hinaannya untuk mengapai sebuah kesuksesan.

Ini hanya sebagian cerita kehidupan nyata. Bukan harta yang akan membuat kita bahagia tetapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com