Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Sabtu, 22 Februari 2014

GENDONG AKU SAMPAI AJALKU TIBA


Pernikahan Bahagia
Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku. Sambil memegang tangannya aku berkata, "Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku.

Aku ingin sebuah perceraian di antara kami, karena itu aku beranikan diriku. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku
dengan tenang, "Mengapa?" Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.


Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan dia dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah dan merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku. Aku minta maaf kepadanya karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi. Bagiku tangisannya sekarang tidak berarti apa-apa lagi. Keinginanku untuk bercerai telah bulat.

Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.

Pagi harinya, dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum perceraian. Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai muka depan pintu setiap pagi.

Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, aku pun menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Aku menceritakan kepada Jane tentang hal itu. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan," kata Jane.

Ada rasa kaku saat menggendongnya untuk pertama kali, karena kami memang  tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. "Wow, papa sedang menggendong mama." Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, "Jangan  beritahukan perceraian ini kepada putra kita." Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.

Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah kenapa, hal itu membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.

Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tentu tidak mengatakan perasaan ini kepada Jane.

Suatu hari, aku memperhatikan dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, "Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang." Aku mulai menyadari bahwa dia semakin kurus dan itulah sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku menyadari bahwa dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata," Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa mama." Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa mempengaruhi dan mengubah
keputusanku untuk bercerai.

Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur
kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat
di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu. Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih.

Pada hari terakhir, aku menggendongnya dengan kedua lenganku. Aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah.
Aku memeluknya erat sambil berkata, "Aku tidak pernah memperhatikan selama ini hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain."

Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, mampir ke tempat Jane.
Melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Begitu cepatnya
karena aku takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku langsung berkata padanya. "Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku."

Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, "Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan
aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya
sampai hari kematian kami."

Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, "Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput."

Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum menghias wajahku. Aku berlari hanya untuk bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami.

Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami.

Betapa berharganya sebuah pernikahan saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Ingat ketika dulu perjuangan yang harus dilakukan, ingat tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kalian, ingat juga tentang janji pernikahan yang telah dikatakan. Semuanya itu harusnya hanya berakhir saat maut memisahkan.

------------------

Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.

Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya.

Jika engkau tidak ingin berbagi/share cerita ini, pasti tidak akan terjadi sesuatu padamu di hari-hari hidupmu.

Akan tetapi, jika engkau mau berbagi/share cerita ini kepada saudara, sahabat atau kenalanmu. Maka ada kemungkinan, engkau dapat menyelamatkan perkawinan orang lain, terutama mereka yang sedang mengalami masalah dalam pernikahan mereka. Semoga demikianlah adanya.

CERITA CINTA SEORANG SUAMI


Aku membencinya, Itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, Aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, Membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, Aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, Setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, Suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka. Ketika menikah, Aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa.
Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, Akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, Aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, Aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, Aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, Aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, Aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.




Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, Tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, Dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami. Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, Dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, Ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, Saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, Karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, Aku juga membenci kedua orangtuaku. Sebelum ke kantor, Biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, Ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu Seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, Akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon. Namun betapa terkejutnya aku, Ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan. Aku menelepon suamiku dan bertanya,
 “Maaf sayang, Kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, Kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, Aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara.

Tak lama kemudian, Handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, Akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??” “Sayang, Aku pulang sekarang, Aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , Kuatir Aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, Aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.

Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, Aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, Terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?”
Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, Ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian.

Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu
harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, Serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, Aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis. Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, Aku termangu menatap wajah itu.
Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku, Mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, Aku  ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, Airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, Tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hamper tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absent mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.
Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, Karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, Aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya.

 Di hari-hari awal kepergiannya, Aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, Aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, Membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, Tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, Tetapi ini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, Sekarang aku memandangi komputer, Mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, Sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa
disembunyikannya, Sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bias mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote.

Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri, Aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang,
Tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, Meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, Meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.
Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belakan, Hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, Keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, Aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, Ternyata seluruh gajinya ditransfer
ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu  diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaries memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, Ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

”Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, Aku ingin mendampingi sayang selamanya.
Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, Ya sayang. Jangan menangis, Sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini.
Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, Putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu. Dan Farhan, Ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke!
Aku terisak membaca surat itu, Ada gambar kartun dengan kacamata yang
diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, Sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta. Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak- anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, Tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikah dengan seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami
bertanya,
 “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu? ”Aku merangkulnya sambil berkata,
 Cinta sayang, cintailah suamimu, Cintailah pilihan hatimu, Cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, Kau akan belajar menyenangkan hatinya, Akan belajar menerima kekurangannya, Akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, Kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “Seperti cinta ibu untuk ayah ? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia
pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, Seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, Tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, Tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Minggu, 09 Februari 2014

Mengoptimalkan Kemampuan Mata dan Telinga

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT1OYUqAorkvyzHWpmZG7neCCkNluJuK_vsDAIhl-eHoJ3_YvYfYAMata adalah untuk melihat, dan telinga adalah untuk mendengar. Ini adalah fakta yang sudah dikenal semua orang. Yang belum banyak diketahui orang adalah bahwa mata dan telinga bisa digunakan menjadi senjata ampuh untuk meraih sukses. Bagaimana caranya?

Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Itu kata pepatah. Ternyata nenek moyang kita, tidak salah. Cinta, benci, sukses, dan masalah berawal dari mata turun ke hati, ke pikiran dan ke tindakan. Jadi, mata merupakan jendela sukses. Tapi, jika tidak hati-hati, mata bisa juga menjadi jendela datangnya masalah. Untuk itu, apa yang kita lihat haruslah diatur sedemikian rupa, sehingga mata kita bisa menjadi jendela kesuksesan, dan kebahagiaan yang berkesinambungan.
Melihat Kondisi Saat Ini. Mata bisa digunakan untuk melihat apa yang sedang terjadi di sekitar kita: kesenjangan yang bisa kita jembatani, kebutuhan orang-orang sekitar atau pasar yang kita bidik yang bisa kita penuhi, ataupun kesempatan yang tersirat dari masalah, krisis ataupun kegagalan yang kita alami saat ini.
Michael Dell, pebisnis ulung di bidang perakitan komputer, melihat adanya ”kesenjangan” yang terjadi antara komputer mahal dengan spefikasi ”tinggi” dengan keinginan pasar akan komputer murah dengan spesifikasi yang tepat memenuhi apa yang diperlukan konsumen, bukannya yang sudah distandarkan dari pabrik.
Ray Kroc melihat adanya ”kebutuhan” para pekerja akan layanan makan siang cepat saji. Dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu, beberapa perusahaan melihat ”kesempatan” untuk memasarkan produk mereka dalam paket-paket kecil yang ekonomis dan praktis, sehingga mudah terjangkau oleh kantong yang hampir kempis sekalipun: shampoo dalam bungkus kecil, sabun cuci dalam bungkus ekonomis, maupun pasta gigi ukuran kecil, yang ternyata laku keras dan tetap dapat dikonsumsi masyarakat yang sedang dilanda krisis.
Melihat Masa Lalu. Mata juga bisa dioptimalkan fungsinya dengan menoleh ke pelajaran berharga yang bisa kita petik dari masa lalu diri kita sendiri, ataupun masa lalu orang lain. Dengan demikian, kita tidak perlu mengulang kesalahan yang sudah pernah dilakukan, kegagalan yang sudah pernah terjadi ataupun ketidakberuntungan yang pernah dijalani (baik oleh kita sendiri, maupun oleh orang lain yang bisa kita pelajari dari buku, cerita langsung ataupun dari pelatihan, seminar atau talk show yang kita hadiri). Namun, yang perlu diingat: kita tidak boleh terpaku ataupun terikat pada masa lalu. Masa lalu sudah berlalu, yang bisa kita ingat adalah pelajaran berharga yang bisa kita jadikan pegangan untuk mengambil keputusan dan melangkah ke masa depan.
Abraham Lincoln yang melihat kekejaman perbudakan di masa lalu, memetik pelajaran berharga untuk menghargai hak-hak asasi manusia, siapa pun mereka tanpa memandang warna kulit, ras ataupun agama. Banyak yang menentang Lincoln, tetapi keyakinannya yang teguh serta perjuangannya yang tulus akhirnya berhasil membawa perubahan pada penegakan hak-hak asasi manusia. Demikian pula dengan Martin Luther King Jr. yang juga belajar dari kekejaman penindasan manusia atas manusia. Bersama para pendukungnya, Martin Luther King Jr. yang terinspirasi para penjuang hak asasi manusia di masa lalu (seperti Gandhi, dan Lincoln) berjuang terus sampai akhirnya hak-hak yang diperjuangkan diakui negara, bahkan dunia.
Melihat ke Masa Depan. Yang membedakan orang biasa dari para pemimpin besar adalah kemampuan melihat ke masa depan. Para pemimpin besar ini menggunakan masa lalu dan masa kini menjadi batu tumpuan untuk melihat ke masa depan. Para pemimpin besar dunia yang sukses tersebut, baik di bidang bisnis, ilmu pengetahuan, maupun politik dan ketatanegaraan, memiliki satu persamaan: pandangan jauh ke depan, atau yang lebih populer dikenal sebagai visi. Gandhi memiliki visi yang jelas dan besar mengenai bangsa India yang hidup tanpa kekerasan dan bebas dari penjajahan. Nelson Mandela juga memiliki visi besar di mana bangsa Afrika bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain, serta memiliki hak-hak yang sama dengan bangsa lain juga.
Para pemimpin tidak hanya mampu mensosialisasikan visi mereka kepada para pengikut dan orang lain saja, tetapi yang lebih penting lagi: visi mereka menjiwai visi yang mereka sosialisasikan tersebut, sehingga merasuk ke seluruh aspek kehidupan mereka. Tidak heran jika visi ini juga tercermin dengan jelas pada setiap kata yang mereka ucapkan, setiap langkah yang mereka ayunkan, setiap keputusan yang mereka buat, setiap tindakan yang mereka lakukan, dan setiap tujuan yang mereka perjuangkan.

TELINGA
Kita dianugerahi oleh Yang Mahakuasa satu mulut dan dua telinga. Maksudnya adalah agar kita tidak sekedar banyak bicara saja, tetapi juga agar kita bisa banyak mendengar. Dengan mendengar, banyak informasi yang bisa kita pelajari, banyak hal yang bisa kita perhatikan, dan banyak ide yang bisa kita gali. Sekarang ini, banyak orang yang sudah menyadari perlunya mengasah keterampilan mendengar yang dapat memberikan banyak manfaat.
Mendengar dengan Tulus. Kita bisa mendengar tanpa memahami apa yang kita dengar. Jadi informasi yang kita dengar, hanya masuk dari telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Untuk mendengar dengan optimal, kita harus melatih diri untuk mendengar dengan tulus. Tanpa ketulusan, kita hanya akan ”berpura-pura” mendengar. Kepura-puraan ini akan menghambat kita untuk benar-benar memperhatikan dan memetik pelajaran dari apa yang kita dengarkan. Seorang pemimpin haruslah bersedia mendengarkan keluhan orang-orang di sekitarnya, masalah-masalah dari para pengikutnya, serta masukan-masukan yang perlu untuk perbaikan.
Semua ini hanya bisa dilakukan, jika sang pemimpin bersedia mendengarkan dengan tulus. Orang yang didengarkan dengan tulus juga akan lebih terbuka dalam menyatakan pendapat, memberikan usulan dan menyampaikan masalah mereka kepada pemimpin tersebut. Pendapat, usulan dan masalah yang disampaikan bisa menjadi masukan yang berharga untuk merancang perubahan yang membawa perbaikan bagi banyak orang. Sam Walton sangat percaya bahwa karyawan dan pelanggan adalah sumber ide yang tidak habis-habisnya bagi perusahaan untuk senantiasa memperbaiki diri. Untuk itu, ia rajin berkeliling ke berbagai outlet Walmart di seluruh negeri (Amerika) untuk mendengar masukan langsung dari karyawan di lapangan dan juga pelanggan yang mengunjungi outlet-outlet Walmart di berbagai daerah yang didatanginya.
Mendengar dengan Bijak. Apa yang kita dengar bisa memberi kita kekuatan. Sebaliknya, yang kita dengar juga bisa membuat kita putus asa dan kehilangan arah. Untuk menyikapi hal tersebut, kita harus mencoba mendengar dengan bijak. Yang bisa kita lakukan adalah mendengar dengan pikiran terbuka, artinya, ketika mendengarkan, kita jangan langsung menganggap apa yang kita dengar tidak ada manfaatnya, melainkan kita harus mengambil sikap untuk senantiasa mencari manfaat dari apa yang kita dengarkan. Berita-berita buruk yang kita terima, harus kita teliti dengan baik sumbernya dan kebenarannya. Jika memang benar, kita juga harus bijak dalam menyikapinya, yaitu: ambil pelajaran penting yang bisa kita gali dari berita buruk tersebut. Pelajaran ini bisa saja berupa hal-hal yang harus kita hindari, ataupun rencana dan tindakan yang harus kita susun guna menyelesaikan hal buruk yang kita dengar tersebut.
Mendengar dengan bijak juga bisa kita lakukan dengan mendengar dari berbagai sumber (tidak cepat percaya dari satu sumber saja). Jika seorang pemimpin mendengar keluhan dari satu orang terhadap orang lain, sang pemimpin harus dengan bijak menanggapi dengan juga mencoba mendengar informasi dari pihak yang lainnya, sehingga informasi yang didengar tidak setengah-setengah, tetapi lengkap agar keputusan yang diambil juga bisa lebih bijaksana (karena sudah mendengarkan kedua belah pihak).
Hal ini telah dipraktikkan oleh Raja Salomo dalam memutuskan masalah seorang bayi yang diperebutkan dua orang ibu. Raja Salomo tidak hanya mendengarkan masukan dari satu orang ibu yang mengakui bayi tersebut, tetapi juga dari ibu yang lain yang juga mengakui bahwa bayi itu adalah bayinya. Dari kesediaan mendengar kedua belah pihak, Raja Salomo bisa mengambil keputusan yang bijak untuk menentukan siapa sebenarnya ibu sang bayi: yaitu dengan mengambil keputusan yang terlihat ekstrim—memutuskan untuk membelah sang bayi agar bisa dibagi rata untuk masing-masing ibu. Ibu yang asli, yang benar-benar menyayangi anaknya, merelakan sang bayi untuk diambil oleh ibu yang lain, dari pada harus dibelah. Dengan demikian terlihatlah dengan jelas siapa ibu yang sebenarnya dari bayi yang diperebutkan tersebut.
Mendengar dengan Aktif. Mungkin saja banyak berita buruk yang kita dengar belakangan ini. Jika kita mendengarkan dengan aktif, maka kita tidak akan terpaku pada berita buruk yang terdengar. Kita akan mengambil sikap untuk memandang masa depan dengan menjadikan berita yang kita dengar saat ini sebagai batu tumpuan untuk membuat rencana dan mengambil keputusan sebagai tindak lanjut dari rencana yang kita buat tersebut. Ketika mendengar tentang penderitaan kaum papa di Calcutta, Ibu Teresa tidak tinggal diam. Ia tidak hanya mendengar dengan pasif, tetapi ia mendengar dengan aktif. Setelah berita ia terima, iapun menyusun rencana dan mengambil keputusan bertindak untuk membantu mereka yang membutuhkan kasih sayang dan bantuannya. Ia lalu membaktikan diri di kota ini, dan terjun langsung melayani kaum miskin yang membutuhkan bantuannya.
Demikian juga dengan Dr. Livingstone yang mendengar tentang penderitaan bangsa Afrika. Ketika berita ini ia dengar, Livingstone belum memiliki gelar dokter. Dengan tekad yang bulat, ia melengkapi diri dengan ilmu kedokteran yang dibutuhkan. Ia juga mencari informasi tentang organisasi dan orang-orang yang bisa membantunya berangkat ke Afrika untuk membantu penduduk asli di sana. Akhirnya, mimpinya untuk pergi dan membaktikan diri di Afrika dapat terwujud. Setelah gelar kedokteran berhasil diraih, dan dana berhasil terkumpul, dr. Livingstone berangkat ke Afrika dan mendedikasikan tenaga, hati dan pikirannya untuk memberi nilai tambah bagi kehidupan rakyat Afrika pada waktu itu.
Mendengar dengan Kritis. Salah satu cara mengoptimalkan kemampuan mendengar kita adalah dengan melatih diri untuk mendengar dengan kritis. Tidak semua yang kita dengar benar. Tidak semua yang kita dengar bermanfaat. Tidak semua yang kita dengar dapat langsung kita terapkan seperti apa adanya. Kita perlu menyimak apa yang kita dengar. Bangsa kita pernah dipecahbelahkan oleh berita bohong yang disampaikan musuh, yang juga adalah penjajah pada waktu itu. Karena bangsa kita tidak mendengar dengan kritis, kita akhirnya termakan oleh berita bohong tersebut, dan hal ini berakibat fatal: kita saling memusuhi satu dengan yang lain, yang membawa kemenangan bagi bangsa lain yang menjajah kita.
Jadi, agar kebodohan ini tidak terjadi lagi, setiap berita yang kita dengar harus kita teliti sumbernya (apakah dapat dipercaya), kelengkapannya (apakah berita yang kita terima sudah lengkap dari orang-orang yang berkepentingan), dan tujuan dari penyampaian berita tersebut (apakah bertujuan untuk menghasut dan memecahbelahkan bangsa, atau untuk memberi semangat bangkit dari kehancuran). Setelah itu barulah kita teliti, apa manfaat yang bisa kita dapatkan dari berita tersebut: kesempatan untuk melakukan perubahan atau tindakan untuk mengatasi masalah. Jika berita yang kita dengar tidak ada manfaatnya, hanya sekedar gosip belaka, tidak usah kita dengarkan lebih lanjut. Berita yang kita dengar juga jangan langsung kita tolak. Kaji dulu apakah kita bisa memanfaatkan masukan yang kita terima tersebut, misalnya dengan mengadaptasinya terhadap situasi yang kita hadapi, atau kita bisa melakukan sedikit perubahan dari masukan ini agar bisa kita manfaatkan sesuai dengan kebutuhan.
Mata dan telinga adalah jendela bagi masukan untuk perubahan ke arah perbaikan. Namun, jika tidak dioptimalkan dan tidak dikelola dengan baik, mata dan telinga juga bisa menjadi pintu kehancuran kita sendiri. Jadi, yang harus kita lakukan adalah mengoptimalkan fungsi mata dan telinga kita, agar bisa membawa kebaikan bagi kita, orang-orang di sekitar kita, serta bangsa kita. Selain itu, kita juga bisa memilih orang-orang, ataupun pemimpin bangsa yang memiliki mata yang mampu melihat kesenjangan yang terjadi saat ini, melihat pelajaran berharga yang bisa dipetik dari masa lalu, serta memiliki visi yang jelas untuk kesejahteraan dan kesuksesan di masa depan.
Selain itu, kita juga perlu mencari orang-orang ataupun pemimpin bangsa yang memiliki kemampuan mendengar dengan tulus, dengan aktif dan dengan kritis, sehingga mau mendengarkan keluhan yang disampaikan serta mengelola informasi yang diterima dengan baik dan menjadikannya masukan berharga bagi rencana dan tindakan menuju perbaikan berkesinambungan. Bersama-sama dengan mereka kita bisa membawa perubahan positif, tidak hanya bagi kita sendiri, terutama bagi umat manusia. Selamat berlatih mengoptimalkan kemampuan mata dan telinga Anda, dan selamat memilih pemimpin yang memiliki ”mata” dan ”telinga” yang ”berfungsi” dengan optimal.


Meet Learn Multiply

Bertemu dan belajar seperti pablo, begini ceritanya :

Apakah Anda pernah membaca karya-karyanya Burke Hedges ? 'Dream-biz.com', Copycat Marketing 101, Who Stole the American Dreams? dll ? Di bawah ini ada cuplikan dari bukunya yg terbaru ' The Parable of the Pipeline'.
Tahun 1801 di sebuah desa kecil di Italia Ada dua orang saudara sepupu, PABLO & BRUNO. Sangat ambisius, pekerja keras dan ingin menjadi orang terkaya di desanya. Satu kesempatan datang melalui kepala desa yg menugaskan mereka untuk memindahkan air dari sungai ke penampungan air di tengah desa. Mereka diberi ember dan dibayar berdasarkan jumlah ember air yg mereka bawa tiap harinya. Singkat cerita, mereka menikmati kerja dan hasilnya. Mereka bisa membeli pondok & keledai sendiri. BRUNO MERASA CITA-CITANYA MULAI TERWUJUD, tapi PABLO TIDAK MERASA DEMIKIAN. Punggung PABLO terasa nyeri dan telapak tangannya lecet karena beban ember tadi.
Mereka istirahat setiap Sabtu & Minggu. Tiap pagi mereka stress terutama Minggu sore, karena besoknya harus mengangkat ember lagi. PABLO akhirnya mencari akal bagaimana caranya memindahkan air yang lebih efisien & efektif.

Akhirnya PABLO mendapat ide untuk MEMBANGUN SALURAN PIPA dari sungai ke desanya. Dia menceritakan idenya kepada BRUNO, tapi BRUNO menolaknya mentah-mentah. BRUNO sudah nyaman dengan kondisinya sekarang. Upahnya besar, punya pondok & keledai sendiri, tiap malam dia istirahat, akhir pekan bisa berlibur ke pantai, ke gunung, ke perkumpulan olah raga atau ke kedai kopi bersama teman-temannya dst.
PABLO akhirnya merealisasikan idenya sendiri. PAGI HINGGA SORE DIA MENGANGKUT EMBER AIR, MALAM HARI DIA MEMBANGUN SALURAN PIPA. BRUNO & teman-temannya mengejek PABLO, tapi PABLO tidak peduli.
PABLO punya visi jauh ke depan karena TIDAK SELAMANYA DIA KUAT MENGANGKUT EMBER AIR. BRUNO semakin kaya, tetapi semakin bungkuk dan melemah. Semakin banyak orang mengangkut ember bahkan dengan ember yg lebih besar.
MESKIPUN MULAI SAKIT & MENUA, BRUNO SADAR BETUL BAHWA DIA TIDAK BISA BERHENTI MENGANGKUT EMBER AIR KARENA UPAHNYA AKAN HILANG.
Setelah 5 tahun, saluran-saluran pipa PABLO rampung dan dia mulai menikmati income dari orang yg membeli air dari saluran pipanya. SALURAN PIPANYA TERUS MENGALIRKAN AIR & UANG MESKIPUN PABLO SEDANG MAKAN, ISTIRAHAT, TIDUR BAHKAN BERLIBUR SEKALIPUN. DIA MENDAPATKAN KEBEBASAN FINANSIAL & WAKTU.
Bahkan BRUNO berencana untuk membangun pipa ke seluruh negeri. Teringat kepada saudaranya, PABLO kembali mengajak BRUNO yg sudah terlihat tua, lelah dan bungkuk. BRUNO akhirnya melihat visi saudaranya itu dan membangun saluran pipa bersama-sama.
Sekarang mereka telah meraih 'RETIRED YOUNG, RETIRED RICH' seperti judul bukunya ROBERT T. KIYOSAKI. “LAKUKAN SEKARANG, SEBELUM ANDA MEMBUTUHKAN”

Tidak apa-apa, kan masih ada hari esok

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang
bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia tidak pernah
mensyukuri betapa baiknya kehidupan yang dia miliki. Dia terus bermain,
menggangu sanak keluarganya kalau mereka tidak mau bermain apa yang dia
ingin main. Tetapi, ketika dia mau minta maaf, dia selalu berkata, "Tidak
apa-apa, besok kan bisa."
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar,
mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia nggak pernah
mensyukurinya. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua
sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya.
Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak tidak pernah mengambil inisiatif
untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasan dia, "Tidak
apa-apa, besok kan bisa."
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun
dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling
tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik
yang lain. Dia dan teman-temannya hampir melakukan segala sesuatu
bersama-sama, makan, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua
teman-temannya yang paling baik.
Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang
sangat cantik dan baik dan segera dia menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk
dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi
dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Tentu, dia rindu sama teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi
menghubungi mereka lagi, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah,
aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu
dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi,
waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam
membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk
istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari
pernikahan mereka. Tapi, itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu
mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya. Tentu, kadang-kadang dia
merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada
istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasan dia
"Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya." Dia tidak pernah
sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini
akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak
pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.
Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan. Dia
ditabrak lari. Tapi hari itu, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa
itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput
maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya meninggal.
Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba mencari menghibur diri melalu
anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar anak-anaknya
tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan
membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli sama orang tua
ini yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.
Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat
baik dengan uang yang dia simpan untuk perayaan pernikahan ke 50, 60, dan
70 dia dan istrinya. Semua uang itu sebenarnya untuk dipakai pergi ke
Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain, tapi kini dipakai untuk
membayar biaya tinggal dia di rumah jompo tersebut.
Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang
merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah
dia rasakan sebelumnya. Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang
suster dan berkata padanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari
dulu...." Dan dia meninggal dengan airmata di pipinya.
Apa yang saya ingin coba katakan pada kamu, waktu itu nggak pernah
berhenti. Kamu terus maju dan maju, sebelum kamu sadar itu, kamu telah
maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!
Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk
meneleponnya segera.
Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang
sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika
kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini
tidak pernah akan datang. Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang,
maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar waktu telah
meninggalkanmu.

Sukses adalah Sebuah Pilihan!

Sukses adalah dambaan setiap orang. Tidak ada satu orangpun yang menginginkan kegagalan dalah hidupnya. Untuk mencapai prestasi kesuksesan dalam hidup Anda maka terlebih dahulu Anda harus mempunyai tujuan hidup (goal setting). Tidak adanya tujuan hidup dalam diri Anda akan menyebabkan diri Anda pasif menerima apa saja yang disodorkan oleh kehidupan kepada Anda dan biasanya hidup Anda akan menjadi sangat membosankan/tidak menggairahkan.

Kebanyakan orang yang hidup tanpa tujuan akan terfokus berjalan ditempat dan menghabiskan waktunya secara membosankan tanpa pencapaian prestasi yang berarti. Mereka hanya menjadi "penonton" dari suatu kehidupan. Mereka hanya bisa melihat kesuksesan orang lain tapi sama sekali tidak pernah membayangkan untuk dirinya sendiri. Inilah yang disebut hidup tanpa tujuan/misi!, Anda harus mempunyai misi hidup di dunia ini agar hidup Anda berarti dan menggairahkan!!

Untuk mencapai sukses tentu saja tidak mudah, karena Anda juga harus menyikapi kegagalan dengan baik jika memang Anda menghadapi kegagalan. Untuk mencapai sukses kerap kali kita harus melewati kesalahan/kegagalan dalam hidup. Banyak orang ingin sukses tapi sedikit sekali yang berani untuk menghadapi kegagalan. Kalau Anda ingin sukses, Anda tidak boleh takut gagal!

Simak "Prestasi Kegagalan" seseorang dan bandingkan dengan diri Anda:
- Gagal dalam bisnis/bangkrut, 1831
- Dikalahkan dalam pemilihan legislatif, 1832
- Bisnis kembali bangkrut, 1834
- Tunangan meninggal dunia, 1835
- Nervous breakdown, 1836
- Dikalahkan dalam pemilihan legislatif, 1838
- Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Congress, 1843
- Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Congress, 1848
- Dikalahkan dalam pemilihan U.S Senat, 1855
- Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Vice President, 1856
- Dikalahkan dalam pemilihan U.S Senat, 1858
- 1860, Abraham Lincoln, berhasil Menjadi Presiden USA!!, You cannot fail... Unless you Quit!!

Anda bayangkan selama lebih dari 25 tahun Abraham Lincoln adalah seorang "juara gagal". Jadi sebenarnya kegagalan itu tidak ada selama Anda terus berjuang, bertahan, belajar dari kesalahan dan mencari cara yang lebih baik mencapai kemenangan. Lain halnya jika Anda berhenti mencoba maka pada saat itulah Anda pantas disebut sebagai orang yang gagal alias pecundang!. Ingatlah bahwa "Winners never quit, Quitters never win !!"

Dalil untuk mencapai kesuksesan adalah :

1. Anda HARUS berani menjadi sedikit "GILA" (dalam hal yang positif).

Abraham lincoln yang gagal puluhan tahun, Thomas Alfa Edison yang gagal ribuan kali dalam uji coba lampu pijar, colombus yang mengatakan dunia ini bulat ketika orang lain mengatakan dunia ini datar, wright bersaudara yang ingin agar manusia bisa terbang, JF Kennedy yang ingin manusia bisa ke bulan dll adalah contoh-contoh manusia yang agak "gila" dan karena keuletannya yang luar biasa hebat inilah hidup mereka bermanfaat bagi banyak orang. Jadi terkadang Anda harus berani melakukan hal-hal yang berbeda dimana orang biasa tidak mau atau tidak berani melakukannya.

Seperti yang dikatakan oleh President Calvin Coolidge "nothing in the world can take the place of persistence, talent will not; nothing is more common than unsuccessful men with talent. Education will not; the world is full of educated derelects. Persistence and determinatiion alone are omnipotent"

Tidak ada yang bisa menggantikan arti penting kegigihan dan keuletan. Bakat pun tidak sebab ada sekian banyak orang gagal meski mereka berbakat . Pendidikan juga tidak bisa menggantikannya, sebab banyak orang berpendidikan tinggi tidak bisa mencapai apa-apa kecuali ijazahnya geripis dimakan jamur dan waktu.Kegigihan, keuletan dan tekat yang membara untuk mencapai tujuan hidup Anda
inilah yang akan mendobrak rintangan yang Anda hadapi. jadi jika kekalahan demi kekalahan berusaha menjegal dan menjatuhkan Anda dan kesuksesan nampaknya makin mustahil maka ingatlah pernyataan diatas, bahwa "tidak ada yang bisa menggantikan kegigihan dan keuletan Anda!"


2. Kendalikan Pikiran Anda
Pikiran adalah kekuatan luar biasa yang harus Anda bisa kendalikan. Galileo bahkan pernah mengatakan "hati-hati dengan pikiran Anda". Apa yang harus kita kendalikan? pikiran negatif adalah hal yang harus bisa Anda kendalikan. Pikiran negatif memang tidak bisa kita tolak masuk ke pikiran kita, namun Anda harus melawannya dengan lebih banyak memasukan pikiran yang positif.

Anda adalah apa yang Anda pikirkan!! jika Anda pikir akan gagal, maka sebenarnya adalah Anda sudah gagal. Untuk itu sukses selalu dimulai dari pikiran Anda!. Anda harus memiliki sikap "can do attitude" yakni "aku bisa melakukan hal itu". Banyak orang yang belum apa-apa sudah mengatakan "aku tidak bisa". Memang nantinya Anda akan diuji oleh kekalahan/kegagalan tapi Anda jangan berhenti, tetap jaga pikiran Anda secara positif bahwa setelah malam yang paling gelap, fajar akan segera menyingsing, disana telah menunggu istana emas, Anda cukup hanya melewati kegagalan-kegagalan saja. Ketika tiap kali hati kecil kita gundah karena belum melihat suatu hal menjadi lebih baik maka Anda harus melakukan oto sugesti kepada pikiran Anda "I refuse to give up, i shall continue firmly, steadily, and persistently until my good appears!"

Ingatkan diri Anda secara terus menerus bahwa sukses bukan hanya milik orang yang brilian, berbakat, penuh keberuntungan dll tapi sukses luar biasa adalah milik orang yang persisten (pantang menyerah), yang terus berusaha mencari cara lebih baik dalam menemukan formula kemenangan meski berton-ton rintangan menghalangi Anda. Untuk menemukan emas, Anda harus menggali berton-ton tanah lumpur. Jangan pikirkan tanah lumpurnya tapi fokuslah pada emasnya!!

"Penemuan terbesar dalam generasi saya adalah bahwa kita dapat merubah hidup kita dengan merubah pola pikir kita" (William James)


3. Selesaikan apa yang telah Anda mulai.
Ya! Anda harus menyelesaikan apa yang telah Anda mulai rencanakan sebelumnya, jangan berhenti sebelum Anda menyelesaikannya. Fokuslah sampai tujuan Anda tercapai. Sukses dan gagal memiliki perbedaan yang tipis. Tidak ada orang yang gagal didunia ini, yang ada hanyalah orang cepat menyerah. Jika saja Thomas Alfa Edison berhenti pada percobaan yang ke 900 mungkin namanya tidak akan melegenda hingga saat ini.

Jangan repotkan pikiran Anda dengan kegagalan masa lalu apalagi sampai membuat Anda trauma. Ubah rasa tramatik Anda, ubah kegagalan Anda menjadi energi positif untuk memperbaiki diri. Ubah energi kekalahan menjadi kekuatan baru dimana Anda akan melakukan upaya yang lebih baik dan lebih hebat dari sebelumnya.

Jangan pernah menyesali diri ataupun iri hati karena Anda tidak terlahir dalam keluarga kaya, tidak dapat harta warisan berlimpah, tidak dapat suami/istri kaya, tidak dikaruniai bakat, keberuntungan dll. Untuk sukses Anda hanya perlu memiliki tujuan yang jelas, persistensi dan determinasi yang keras untuk mencapai tujuan tersebut. Hidup ini keras dan Anda juga harus keras agar hidup ini melunak kepada Anda
Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com