Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Selasa, 23 Juni 2009

Belajar Dari Kegagalan

KEGAGALAN: BATU LONCATAN

Semua orang pasti akan menyambut datangnya sukses dengan tangan terbuka. Sebaliknya, banyak orang akan berusaha agar tidak mengalami kegagalan. Kenyataannya, sukses dan gagal merupakan ”satu paket” yang tidak bisa dipisahkan. Lalu, mengapa kita harus takut pada kegagalan? Yang perlu kita ketahui adalah apa yang harus kita lakukan ketika kegagalan datang. Simak yang berikut.
Jika kita sadar bahwa kegagalan itu merupakan bagian dari sukses dan kegagalan merupakan guru yang terbaik, maka kita tidak akan takut ketika kegagalan datang.

Kegagalan merupakan bagian dari sukses
Di balik manisnya kesuksesan ada setumpuk kegagalan. Seorang bayi, ketika belajar berbicara, harus melewati ”kegagalan” dalam mengucapkan huruf, kata, dan kalimat. Sebelum seorang anak bisa berjalan, bahkan berlari, pasti mengalami jatuh berkali-kali. Kegagalan juga dialami oleh orang dewasa. Tanyakan saja kepada para ilmuwan. Sebelum mereka berhasil mempersembahkan karya ilmiah yang gemilang, mereka banyak mengalami kegagalan (puluhan, bahkan ratusan kegagalan) dalam percobaan dan riset yang mereka lakukan.
Sebelum Thomas Alva Edison menemukan bola lampu yang berhasil merevolusi kehidupan manusia, ia melakukan banyak kesalahan dan mengalami ratusan percobaan yang gagal. Bahkan dari ratusan percobaan tersebut, hanya satu yang berhasil membawa sukses: penemuan bola lampu. Demikian juga dengan olahragawan, sebelum mereka berhasil membukukan sukses, mereka juga harus melewati jalan yang sama: kegagalan. Lance Armstrong, pebalap sepeda dunia yang telah berhasil memenangkan berbagai kejuaran dunia balap sepeda, dia juga mengalami banyak kegagalan. Ia harus mengalami jatuh bangun dalam ratusan kali latihan yang ia jalani dalam mempersiapkan diri sebelum ikut suatu pertandingan.
Hal yang sama juga dialami oleh para pebisnis sukses. Mereka bahkan memasukkan kegagalan dalam rencana sukses mereka. Kegagalan mereka antisipasi dalam perjalanan meraih sukses, sehingga mereka pun bisa mempersiapkan diri dengan baik untuk melewati jalan yang penuh kesulitan.Ketika jalan itu berhasil mereka lalui, mereka mengambil pelajarannya dan terus melaju meraih yang mereka cita-citakan.

Kegagalan merupakan guru yang terbaik
Banyak memang pelajaran yang kita dapat dari kesuksesan. Tapi, biasanya, pelajaran dari kegagalan akan lebih melekat dan lebih mudah kita ingat. Santi, yang baru saja mengalami kegagalan dalam tahap akhir interviu untuk memperoleh pekerjaan yang diidamkannya, sangat terpukul.
Ia menganalisa lagi tiap langkah yang ia lakukan selama interviu. Ternyata, setelah diamati dengan rinci, malam sebelumnya, ia nervous, sehingga ia hanya tidur sekitar dua jam saja, dan tidak tampil prima secara fisik ketika harus diwawancara.
Lain lagi dengan Mustafa. Dengan dibekali semangat tinggi, rencana bisnis yang menurutnya sudah sempurna, serta dibekali uang tabungan yang berhasil dikumpulkan selama sepuluh tahun bekerja, ia mencoba memulai usahanya sendiri. Tetapi yang ia lupakan adalah mengantisipasi ”kegagalan” dalam agenda bisnisnya. Akibatnya, ketika enam bulan pertama ia masih harus mengalami kegagalan ia tidak siap, sehingga bisnisnya harus gulung tikar.
Setelah mengalami kegagalan yang menyakitkan. Mustafa kembali bangkit menggalang dukungan dan mengumpulkan dana untuk memulai usaha dari awal lagi. Kali ini, belajar dari sakitnya kegagalan yang ia alami, Mustafa memasukkan ”kegagalan” dalam rencana bisnisnya, terutama pada enam bulan sampai satu tahun pertama. Dengan perencanaan yang lebih matang, akhirnya ia berhasil meraih keuntungan.

Belajar dari Kegagalan
Henry Ford, sang kaisar di kerajaan mobil, mengatakan bahwa kegagalan merupakan kesempatan untuk memulai kembali dengan cara yang lebih cerdas. Jadi, ketika kita mengalami kegagalan, janganlah menganggap bahwa kegagalan itu adalah akhir dari perjalanan hidup kita. Tapi dengan adanya kegagalan, kita mempunyai kesempatan untuk memulai kembali dengan lebih bijak.

Melaju dengan kegagalan
Malcolm Forbes, pebisnis sukses, sepertinya juga setuju dengan pernyataan Henry Ford mengenai kegagalan. Forbes bahkan menegaskan bahwa kegagalan adalah kesuksesan jika kita mau belajar dari kegagalan tersebut. Ilustrasi berikut yang didapat penulis dari sebuah email dan juga dikutip oleh Michael Lum Y dalam bukunya No Failure, Only Success Delayed menarik untuk kita simak bersama: Pada suatu hari, seorang petani yang sedang berjalan bersama keledainya, terpaksa menghentikan perjalanannya karena sang keledai jatuh ke dalam sumur.
Setelah melihat sumur tua yang sudah tak terpakai, sang petani berpikir bahwa sumur ini sudah tidak ada gunanya. Kemudian ia melihat ke dalam sumur. Di dasar sumur terlihat keledai tuanya yang terjatuh. Karena menganggap bahwa sumur dan keledai tak ada gunanya, lalu sang petani mulai memanggil beberapa teman untuk mengubur keledai dan menutup sumur tua tersebut.
Sedikit demi sedikit tanah pun mulai diuruk. Sang keledai merasa sedih karena merasa tidak dihargai oleh tuannya. Tapi ia tidak putus asa. Tanah yang jatuh dipundaknya, digoncangnya, sehingga tanah jatuh ke bawah. Lalu sang keledai naik ke atas tanah tersebut. Demikian seterusnya, sang keledai naik terus.
Makin banyak tanah yang dilemparkan, makin dekat sang keledai ke permukaan, sampai akhirnya sampailah keledai ke permukaan sumur dan berhasil loncat ke luar.
Menurut Michael Lum, kegagalan adalah tanah urukan yang berkali-kali harus kita pikul. Tetapi, jika kita bisa memanfaatkan kegagalan dengan baik, maka kegagalan bahkan bisa kita jadikan senjata untuk meraih kemenangan.

Belajar dan berubah dengan kegagalan
Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan adalah awal dari suatu perubahan. Dengan kegagalan dalam perekonomian, khususnya di bidang perbankan, Indonesia belajar untuk memperbaiki sistem perekonomian dan perbankan yang ternyata memang sudah bobrok. Beberapa bank mengalami perombakan dan perubahan ke arah perbaikan. Beberapa perusahaan negara dan juga swasta dilebur, direstrukturisasi untuk mengalami perbaikan kinerja.
Jepang dan Jerman yang mengalami kekalahan dan kegagalan dalam Perang Dunia yang lalu, belajar dari kepedihan yang mereka alami. Kedua negara ini kemudian melakukan perubahan di semua bidang pembangunan untuk memperbaiki kondisi ekonomi, sosial dan politik yang hancur. Dalam beberapa dekade saja, kedua negara ini berhasil menempatkan diri sebagai negara adidaya yang sukses hampir di semua aspek pembangunan bangsa.

Bangkit dari Kegagalan
Sekarang kita sudah tahu bahwa kegagalan bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Bahkan banyak hal positif yang bisa kita petik dari kegagalan. Selanjutnya, yang perlu kita ketahui adalah langkah-langkah apa yang perlu kita ambil jika kita harus mengalami kegagalan.
Kesadaran. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa kita sedang mengalami kegagalan. Tanpa kesadaran ini, kita tidak bisa berlanjut ke langkah perbaikan berikutnya. Biasanya, banyak tanda-tanda yang menyertai datangnya kegagalan, antara lain, hasil penilaian kinerja yang buruk, masalah dalam komunikasi antardepartemen, arus kas yang terhambat, menurunnya keuntungan, ataupun berkurangnya pelanggan secara drastis dalam kurun waktu tertentu.
Evaluasi. Setelah kita sadar bahwa kita telah mengalami kegagalan, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi kesalahan apa yang sudah kita lakukan. Evaluasi bisa dilakukan dengan mengurut kembali langkah-langkah yang telah kita lakukan sebelumnya, lalu menganalisa kegagalan yang terjadi.
Kegagalan bisa saja terjadi karena faktor internal: keterampilan dan pengetahuan yang kurang, fasilitas dan dukungan yang terbatas, sikap yang negatif, kurang komitmen, atau kurang persiapan. Kesalahan bisa juga datang dari luar: kondisi perekonomian yang memburuk, peraturan dan perundang-undangan baru yang tidak mendukung, atau adanya teknologi baru yang belum kita manfaatkan.
Koreksi dan perubahan. Hasil evaluasi kemudian perlu kita olah agar bisa kita gunakan untuk mempelajari dan menentukan tindakan koreksi yang harus dilakukan dan perubahan yang perlu kita ciptakan untuk membantu kita bangkit dari kegagalan.
Konsolidasi. Setelah tindakan koreksi dan perubahan kita susun, langkah selanjutnya adalah melakukan konsolidasi. Konsolidasi bisa kita lakukan ke dalam ataupun ke luar, dan dengan berbagai pihak, antara lain: atasan, bawahan, rekan sekerja, pelanggan, supplier, bahkan keluarga dan teman. Konsolidasi ini diperlukan untuk menggalang dukungan, mengumpulkan sumber daya yang diperlukan, serta menyusun strategi sukses.
Perencanaan. Setelah konsolidasi dilakukan, perencanaan yang lebih matang pun bisa kita siapkan. Dalam perencanaan, jangan lupa untuk mengantisipasi kendala, kesalahan, dan kegagalan yang mungkin harus kita alami, atau bahkan yang harus kita ciptakan untuk kita jadikan batu loncatan guna meraih sukses (seperti sang keledai yang menggunakan tanah yang dilemparkan ke pundaknya untuk melangkah maju dan keluar dari mulut sumur).
Aksi. Perencanaan yang telah disusun harus segera diimplementasikan. Perencanaan tanpa pelaksanaan tak ada nilai tambahnya. Jadi, setelah semuanya disusun dengan baik, langkah selanjutnya adalah melaksanakannya, yaitu melakukan aksi, setelah itu barulah kita bisa memetik hasilnya.
Soichiro Honda, Thomas Edison, Rupert Murdock, Albert Einstein adalah orang-orang yang meraih sukses di bidang masing-masing melalui berbagai kegagalan. Mereka sudah membuktikan bahwa kegagalan berada dalam satu paket dengan kesuksesan. Mereka juga telah banyak memperoleh manfaat dari serangkaian kegagalan yang mereka alami. Jadi, jika kegagalan datang, kita tidak perlu patah semangat, pastikan bahwa kita memetik manfaat dari kegagalan dan menggunakannya sebagai batu loncatan untuk meraih sukses.n
Tahukah Anda

Di bawah ini ada sebuah daftar kegagalan dari orang yang
semasa hidupnya mengalami banyak tantangan dan badai.
1831 - ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya.
1832 - ia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal.
1833 - ia kembali menderita kebangkrutan.
1835 - istrinya meninggal dunia.
1836 - ia menderita tekanan mental sedemikian rupa, sehingga hampir saja masuk rumah sakit jiwa.
1837 - ia menderita kekalahan dalam suatu kontes pidato.
1840 - ia gagal dalam pemilihan anggota senat Amerika Serikat.
1842 - ia menderita kekalahan untuk duduk di dalam kongres Amerika Serikat.
1848 - ia kalah lagi di konggres Amerika Serikat.
1855 - ia gagal lagi di senat Amerika Serikat.
1856 - ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden Amerika Serikat.
1858 - ia kalah lagi di senat Amerika Serikat.
1860 - ia akhirnya menjadi presiden Amerika Serikat.
kegagalan dalam bisnis dalam usia 21 tahun,
kalah dalam pemilihan anggota legislatif di usia 22 tahun,
gagal lagi dalam bisnis di usia 24 tahun,
menderita kesedihan akibat kematian kekasihnya di usia 26 tahun,
menderita gangguan syaraf di usia 27 tahun,
gagal dalam pemilihan anggota kongres di usia 34 tahun,
gagal dalam pemilihan anggota senat di usia 45 tahun,
gagal dalam upaya menjadi wakil presiden di usia 47 tahun,
gagal dalam upaya pemilihan anggota senat di usia 49 tahun,
namun akhirnya terpilih sebagai presiden Amerika Serikat di usia 52 tahun

Siapakah dia? Namanya ialah Abraham Lincoln.
Kalau orang lain yang mengalami demikian banyak kegagalan mungkin ia sudah mundur secara teratur. Tetapi Lincoln maju terus, kata mundur sama sekali tidak ada di otaknya.
Akibatnya ia kemudian mencapai suatu sukses yang luar biasa.
Bagaimana tangan-tangan Ghaib kegagalan bertindak
Kegagalan adalah perancangan Ilahi di mana dia menguji manusia menerusi takdirNya untuk membuatkan mereka lebih berusaha.
Ketika anda membaca kajian-kajian kes yang berdasarkan kisah-kisah benar di bawah ini, cuba fahami dan kenalpasti tentang bagaimana dan di mana tangan-tangan ghaib itu bertindak.

1 Kisah Hotel Hilton
Conrad Nicholson Hilton - anak kedua daripada 8 orang adik beradik - dilahirkan pada 1887 di San Antonio, Wilayah Mexico. Ayahnya seorang pendatang dari Norway, seorang yang tekun berusaha tetapi telah mengalami beberapa kerugian dalam urusniaganya. Perniagaan utama mereka adalah sebuah kedai runcit. Keuntungan yang diperolehi membolehkan mereka membina sebuah rumah besar dengan beberapa buah bilik.
Semasa kemelesetan pada 1907, wang sukar diperolehi. Atas cadangan Conrad, keluarga Hilton mengubahsuai rumah mereka menjadi sebuah rumah tumpangan yang sederhana. Setiap petang, Conrad pergi ke stesen keretapi untuk mengiklankan perniagaannya. Pada kadar US $1 para penginap diberikan layanan mesra dengan sebuah bilik yang bersih dan hidangan makanan yang di masak oleh Mary Hilton (ibunya). Akhirnya Conrad berjaya membeli hotelnya sendiri dan selepas era Kemelesetan Besar, Hilton terus terlibat dalam apa saja perniagaan yang boleh diceburi, membina rantaian Hotel Hilton sehingga menjadi sebuah organisasi yang dihormati dalam memberikan layanan mesra dan paling baik di dunia.

2 Kisah Kim Dae Jung
Kim Dae Jung lebih dikenali sebagai D.J. Kim. Dia adalah anak kedua kepada seorang petani di sebuah pulau kecil - Ha Eui, Korea. Pada zaman kanak-kanaknya, Kim membesar tanpa mendapat sebarang pendidikan formal; namun ia menggemari buku dan falsafah. Hanya pada 1937, apabila ibu bapanya berpindah ke Mokpo di tanah besar, barulah dia menerima pendidikan yang sempurna. Walau bagaimana pun pada penghujung Perang Dunia Kedua, apabila sekolah-sekolah ditutup Kim memulakan kerjayanya dalam bidang perkapalan. Dalam satu perjalanan urusniaga ke Seoul, Kim ternampak penderitaan raykat yang disebabkan oleh politik yang kurang sihat. Itu adalah permulaan kerjayanya dalam bidang politik yang mengakibatkan beliau hampir-hampir menemui maut sebanyak 5 kali, dipukul, dicolek, meringkuk selama 6 tahun dalam penjara, dan 10 tahun hidup dalam buangan. Tetapi semakin ditekan, beliau menjadi semakin popular. Semasa berada dalam penjara, Kim mempelajari bahasa Inggeris secara sendirian, serta menelaah hasil kerja Mencius, Plato, Bertrand Russell dan Abraham Lincoln. Ke mana sahaja dia pergi, dia sentiasa membawa sebuah kamus dalam poketnya, dan mem-pelajari perkataan-perkataan baru. Pada satu ketika beliau dijatuhkan hukuman mati atas alasan melakukan penderhakaan. Tetapi entah bagaimana, nyawanya terselamat apabila Amerika datang menyelamatkannya. Hukuman-nya dipinda kepada penjara seumur hidup dan kemudiannya dia diterbangkan ke Amerika.
Adalah suatu yang ironi ataupun itu se-memangnya takdir bilamana calon yang telah 3 kali gagal menjadi Presiden ini akhirnya berjaya mengemudikan Korea Selatan.
Apablia Kim menjadi presiden, ekonomi Korea Selatan telahpun tenat dan berada di bawah telunjuk IMF (Tabung Kewangan Antarabangsa). Ya, semua pengalaman yang pernah dilaluinya dalam hidup telah menyediakan beliau untuk saat itu - memimpin negaranya untuk keluar daripada krisis ekonomi semenjak Perang Dunia.

3.Kolonel Sanders, pemilik restoran cepat saji KFC,
Pernah menawarkan resep ayam gorengnya kepada 1034 investor dan seluruhnya gagal. Baru pada investor ke 1035, ia baru berhasil. Sekarang kita melihat restoran KFC berdiri di mana-mana.

4.Soichiro Honda, pemilik pabrik otomotif HONDA,
Pada awalnya hanya seorang pekerja yang punya mimpi membuat piston dan beberapa suku cadang otomotif. Beberapa jari tangannya putus karena beberapa percobaan yang dilakukannya. Berkali-kali piston karyanya ditolak pabrik. Hampir diterima, tetapi bom atom Amerika Serikat menghancur-luluhkan Jepang. Ia gagal lagi. Tapi ia tidak berhenti. Ia malah meningkatkan usahanya dengan memodifikasi sepeda menjadi sepeda motor. Usahanya semakin besar. Dan kini, sepeda motor dan mobil bermerk HONDA banyak bersliweran di mana-mana.

Apabila Kolonel Sanders dan Soichiro Honda berhenti hanya karena satu dua kali kegagalan, resto KFC dan Pabrik Otomotif HONDA tidak akan sebesar sekarang. Bahkan bisa jadi kita tidak akan pernah mengenalnya. Saran saya, jika anda sudah membuat kesepakatan dengan seseorang (dalam hal ini dengan pemilik kios), laksanakan kesepakatan itu. Buatlah rencana usaha dengan baik. Produk apa yang akan dijual? Bagaimana menjualnya ? Bagaimana menarik konsumen? Siapa yang akan mengelola dan menjaga kios? Terakhir, laksanakan rencana anda. Jika gagal, jangan terburu-buru memutuskan berhenti.

Lakukan evaluasi dalam kurun waktu tertentu. Teliti penyebab kegagalan, dan perbaiki. Anggaplah kegagalan seperti anda sedang terpeleset ketika sedang berjalan (Ketika anda terpeleset, pasti anda tidak akan duduk saja. Anda pasti akan bangkit lagi ketika anda terpeleset). Insya Allah anda akan sampai pada titik keberhasilan yang anda inginkan. Saya pribadi (mudah-mudahan anda bisa menerapkannya), memaknai sebuah kegagalan yang saya alami dengan tiga kemungkinan, yaitu:
1. Menantang kita supaya tidak mudah menyerah.
2. Menunjukkan bahwa kita telah berbuat kesalahan.
3. Membuktikan bahwa ada kekuatan lain yang lebih kuat, yaitu Allah.
Kalau Roger Bannister mendengar kata-kata pakar-pakar disekelilingnya, sudah tentu kejayaan mencatat rekod larian 1 batu bawah 4 minit tidak dicapai pada tahun 1954. Kalau Dr Stephen Hawking mengalah dengan sakitnya, belum tentu buku 'A Brief History of Time', yang memperkatakan tentang teori-teori kewujudan alam semesta itu wujud. Kalau J.K Rowling berputus asa selepas manuskrip pertama Harry Potter ditolak oleh 12 syarikat penerbitan, sudah tentu kita tidak mengenal watak budak berambut lurus berkaca mata bulat itu.

MERASA GAGAL? BELAJARLAH DARI THOMAS ALVA EDISON

Thomas Alva Edison bukanlah nama yang asing bagi kita. Dia dikenal dan dikenang seluruh dunia dengan penemuannya yang menggemparkan dan mempengaruhi seluruh dunia. Bola lampu listrik merupakan penemuan hebat yang sungguh mengagumkan. Sebelum dipanggil menghadap sang khalik pada usia 84 tahun, Thomas Alva Edison telah mempersembahkan 1.093 karya yang besar bagi dunia ini.

Hal yang menarik dalam hidupnya, sejak kecil telah membiasakan diri bertanya tentang sesuatu yang baru. Di sekolah ia selalu mempertanyakan jawaban yang diberikan oleh gurunya. Karena terlalu banyak bertanya, guru menilai bahwa dia seorang murid yang bingung atau bocah yang pikirannya kacau.

Dalam catatan riwayat hidupnya, Edison tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah tempatnya belajar. Dia hanya mampu bertahan di sekolah itu selama tiga bulan. Itulah pendidikan formal yang pernah ditempuhnya. Walaupun demikian, Edison tetap belajar sendiri, sampai menghasilkan karya besar yang mempengaruhi seluruh dunia.

Anda mungkin bertanya, bagaimana bisa seseorang yang menempuh pendidikan formal selama tiga bulan mendapatkan pemikiran-pemikiran yang tajam dan karya yang besar? Apa rahasia keberhasilannya? Mari kita melihat prinsip yang sangat ketat dalam kehidupan Edison.

Menurutnya: "putus sekolah, tidak berarti putus pendidikan/belajar".

Walaupun pendidikan formalnya putus, tetapi dia terus menerus belajar dengan semangat yang tinggi.

Siapakah yang berjasa di dalam proses belajar Edison? Siapakah yang menjadi guru setianya?

Ternyata, ibunya sendiri. Ibunya mantan seorang guru. Karena pengalaman mengajar yang sudah dilakukannya selama bertahun-tahun, ibunya terus melanjutkan pendidikan Edison di rumah. Dialah ibu yang sangat memahami dengan benar sifat anaknya yang selalu cerewet untuk bertanya. Edison selalu ingin tahu tentang segala sesuatu dari sudut ilmu eksakta (ilmu pasti).

Dari hasil pemantuan sang ibu, akhirnya pada usia 9 tahun sang ibu memberinya buku pelajaran dasar fisika. Buku itu berisi tentang uraian percobaan-percobaan ilmiah yang dapat dikerjakan sendiri oleh si bocah. Edison ternyata belajar dengan penuh gairah serta menantang setiap pernyataan yang terdapat dalam buku itu. Setiap pernyataan yang ada dipraktekan dan diuji sendiri sampai berhasil.

Hal ini dapat dipahami karena Thomas Alva Edison adalah seorang yang memiliki temperamen kolerik. Orang yang memiliki temperamen kolerik adalah pribadi yang sangat berbahagia bila menerima tantangan. Senang dengan terobosan-terobosan baru.

Pikirannya yang telah dipengaruhi oleh buku-buku yang pernah dibacanya, menantang Edison untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran yang baru saja dipelajarinya.

Pada usia 10 tahun, Edison telah mulai kegiatan eksiperimen. Dia menjadikan ruang bawah rumah ayahnya sebagai laboratorium kimia. Dia mulai mencoba eksiperimen yang berhubungan dengan obat-obatan sampai peralatan-peralatan listrik. Semua ini tidak terlepas dari semangat yang terus diberikan oleh ibunya.

Pada usia 12 tahun, Edison ingin mempunyai uang sendiri tanpa membebani orangtuanya. Sekalipun pada saat itu ekonomi keluarganya sangat baik karena ayahnya menjadi penyalur padi dan makanan yang sukses di Port Huron. Tetapi Edison tidak mau bergantung terus kepada orangtuanya. Lebih baik dia mencari uang sendiri untuk meraih cita-citanya. Dia pergi menjual koran dan makanan kecil di atas Kereta Api.

Motivasinya sangat jelas, yakni ingin mendapat uang untuk membeli bahan-bahan kimia dan peralatan-peralatan yang akan dibutuhkan untuk keperluan eksiperimen. Dia begitu tekun, giat dan bekerja keras demi cita-cita mulia tersebut.

Selain mencari uang, Edison juga terus belajar di perpustakaan umum di kota dimana dia berada, ketika Kereta Api yang ditumpanginya untuk menjual koran singgah di stasiun. Dia tekun, serius mencari bahan-bahan referensi yang akan menunjang secara percobaan ilmiah yang sedang digumulinya.

Edison bukanlah seorang yang ngawur tetapi setia memperhatikan langkah-langkah imiah yang berlaku.

Dari ketekunannya pada usia 15 tahun, Edison berhasil ganti profesi, dari penjual koran menjadi penerbit koran. Semua koran itu dikerjakannya di Kereta Api. Koran tersebut diberi nama "Weekly Herald," Published by Newsboy on The Mixed Train.

Suatu pagi, Edison mencoba naik Kereta Api yang sedang bergerak. Salah seorang kondektur Kereta Api tersebut menolongnya naik dengan mencekeram kupingnya. Kejadian itu menyebabkan Edison tuli.

Apakah peristiwa tersebut menyurutkan semangat Edison? Tidak! Malah melalui kejadian itu ada nilai postif yang diperolehnya, yakni ketika Edison menjadi tuli, dia tidak terganggu dengan suara-suara dari luar sehingga lebih konsentrasi melakukan percobaan-percobaan.

Di antara 1.093 karya Edison, yang sangat populis dan merupakan kebutuhan mendasar seluruh dunia adalah bola lampu listrik. Memang sebelumnya para ahli yang memiliki tingkat akademis yang tinggi telah melakukan percobaan selama lima puluh tahun, tetapi hasilnya hanyalah frustrasi dan keputusasaan belaka.

Berbeda dengan Edison, semangatnya yang menggebu-gebu disertai dengan ketekunanan telah menghantarnya menjadi berkat bagi dunia melalui profesi dan talenta yang Tuhan anugerahkan dalam hidupnya.

Kesempatan yang Tuhan anugerahkan tidak dibuang dengan sia-sia. Setiap detik dipakai dengan penuh tanggungjawab. Thomas Alva Edison merelakan dirinya untuk mengalami kegagalan sebanyak 999 kali untuk mencapai keberhasilan yang memuaskan dirinya sebagai penemu, sekaligus menjadi berkat bagi sesama manusia di seluruh belahan dunia ini. Fakta menunjukkan bahwa dia seorang yang jenius.

Bagi Edison, Jenius adalah: "Genius is : 1 % is inspiration but 99 % is perspiration (Jenius : 1 % adalah inspirasi bawaan sejak lahir, tetapi 99 % adalah perspirasi/hasil keringat/kerja keras)".

Menurutnya kejeniusan bukan saja hanya bawaan sejak lahir tetapi melalui usaha serta ketekunan yang menghasilkan keringat. Keberhasilan yang dicapai tanpa melalui hasil keringat adalah keberhasilan yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan orang lain. Namun, keberhasilan yang sesungguhnya harus disertai kerja keras yang memeras keringat.

Jasa Thomas Alva Edison dikenang dan diakui seluruh dunia. Bahkan dia telah mampu membawa terang bagi dunia melalui prestasi yang telah digarapnya dengan serius. Pelajaran yang sangat berharga dapat kita petik melalui kehidupan Thomas Alva Edison. Pendidikan atau gelar sarjana bukanlah jaminan satu-satunya untuk mencapai keberhasilan. Gelar kesarjanaan penting dan memang harus, sesuai dengan tuntutan zaman masa kini, tetapi apabila tidak dibarengi dengan ketekunan/keuletan dan keseriusan, tidak akan menghasilkan sesuatu.

Thomas Alva Edison memberi kita inspirasi bahwa semangat kerja, ketekunan dan jiwa yang tidak mau menyerah dengan keadaan akan menghasilkan sesuatu. Edison walaupun diusia lanjut, semangatnya tidak pernah pudar, semangatnya terus berkobar untuk menghasilkan perkara-perkara yang mulia.

Kerja di laboratoriumnya berhenti ketika ia tutup usia, 18 Oktober 1931 yang lalu. Tetapi dunia memberikan penghargaan besar kepadanya, sebab telah berhasil meletakkan fondasi bagi terjadinya revolusi industri.

Bagaimana dengan Anda? Hasil karya apakah yang Anda buat pada zaman ini?

Pikirkanlah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com